JAKARTA - Awal tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi industri otomotif tanah air, khususnya di sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Indonesia mencatatkan rekor pertumbuhan yang sangat impresif, di mana volume pasar EV nasional melonjak hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Di tengah euforia transisi energi hijau ini, jenama asal Tiongkok, BYD, muncul sebagai kekuatan yang tak tertandingi dengan menguasai lebih dari separuh pasar mobil listrik di Indonesia.
Keberhasilan ini menandai pergeseran besar dalam preferensi konsumen otomotif lokal. BYD tidak hanya sekadar hadir, tetapi telah menetapkan standar baru dalam hal penetrasi pasar. Berdasarkan data terbaru per Januari 2026, dominasi BYD kini telah menembus angka di atas 60 persen, sebuah pencapaian yang memperkokoh posisi mereka sebagai "Raja EV" di Nusantara.
Lonjakan Kepercayaan Konsumen dan Strategi Pangsa Pasar
Peningkatan pangsa pasar ini menjadi bukti nyata bahwa strategi komunikasi dan edukasi yang dilakukan BYD mulai membuahkan hasil manis. Jika pada tahun sebelumnya partisipasi BYD masih berfluktuasi di angka 50 hingga 60 persen, kini angka tersebut telah melampaui ambang batas 60 persen. Hal ini mencerminkan tingkat penerimaan masyarakat yang semakin tinggi terhadap teknologi yang ditawarkan perusahaan.
Luther Pandjaitan, Head of Marketing PR and Government BYD, memberikan pandangannya mengenai pencapaian ini di Jakarta pada Selasa (10/2/2026). “Angka partisipasi BYD sudah mencapai 60 persen lebih dari total market EV. Jika tahun lalu kita masih di angka 50–60 persen, artinya di awal 2026 ini awareness dan kepercayaan konsumen terhadap BYD semakin naik signifikan,” jelas Luther. Lonjakan ini sekaligus menunjukkan bahwa loyalitas merek mulai terbentuk kuat di tengah persaingan ketat merek-merek global lainnya.
Lini Produk Lengkap dari Segmen Keluarga hingga Premium
Salah satu kunci utama di balik dominasi BYD adalah keberagaman portofolio produk mereka. Berbeda dengan beberapa kompetitor yang hanya fokus pada satu atau dua segmen, BYD secara agresif mengisi hampir seluruh celah kebutuhan pasar. Model BYD M6 dan Atto 3 tetap menjadi tulang punggung penjualan, terutama bagi konsumen yang mencari mobil listrik ramah keluarga dengan fungsionalitas tinggi.
Namun, kejutan muncul dari model lain seperti C-Lion 7 yang mencatatkan performa penjualan melampaui ekspektasi. Selain itu, kehadiran sub-brand Denza mulai memberikan ancaman bagi pemain lama di segmen kendaraan listrik premium. “Saat ini BYD adalah brand EV dengan produk paling komplit. Kami mengisi kekosongan dari sisi fitur, keterjangkauan harga (affordability), hingga jarak tempuh (range). Kami mencoba memenuhi semua kebutuhan pelanggan,” tambah Luther. Keberagaman ini memastikan bahwa calon pembeli dari berbagai latar belakang ekonomi memiliki pilihan di dalam ekosistem BYD.
Menolak Perang Harga Demi Kualitas dan Teknologi
Fenomena unik terjadi di pasar EV awal 2026 ini. Saat beberapa produsen otomotif lain mulai melakukan manuver pemangkasan harga hingga 10 persen untuk merayu konsumen, BYD justru mengambil langkah yang berbeda. Perusahaan memilih untuk tetap teguh pada nilai produk tanpa harus terjebak dalam perang harga yang merusak margin dan citra merek.
Luther Pandjaitan menegaskan bahwa kualitas adalah daya tawar utama yang mereka berikan kepada konsumen. “Kami tidak mau masuk ke pertarungan harga. Kami merasa percaya diri dengan nilai yang diterima konsumen dibandingkan dengan harga yang dibayarkan. Harga hanyalah salah satu indikator, tapi teknologi dan kualitas adalah yang utama,” tegasnya. Fokus pada value for money ini diyakini akan lebih langgeng dalam menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang di Indonesia.
Persiapan Produksi Lokal dan Sertifikasi Menuju Zero Error
Masa depan dominasi BYD di Indonesia tampaknya akan semakin solid dengan segera beroperasinya pabrik lokal mereka. Saat ini, pembangunan fasilitas produksi tersebut telah memasuki tahap akhir yang sangat krusial. Langkah ini merupakan bentuk komitmen jangka panjang perusahaan untuk mendukung program lokalisasi industri kendaraan listrik di tanah air.
Sebagai bagian dari standarisasi global, BYD telah berhasil mengantongi empat sertifikat penting, termasuk sertifikat IKD (Incompletely Knocked Down) khusus untuk kendaraan listrik. Saat ini, pabrik tersebut tengah menjalani proses commissioning. Tahapan ini dilakukan dengan sangat teliti untuk memastikan bahwa setiap lini produksi mampu menghasilkan kendaraan dengan standar zero error.
Dengan penguasaan pasar yang telah menyentuh angka 60 persen, BYD kini memegang kendali atas arah perkembangan industri EV di Indonesia. Status mereka telah bertransformasi dari sekadar pemain baru menjadi pemimpin pasar yang dominan. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kemenangan bagi perusahaan, tetapi juga menjadi indikator positif bagi percepatan adopsi kendaraan listrik yang lebih masif di masa mendatang.