Investor

Pinnacle dan Manulife Maksimalkan Strategi SBN Demi Keuntungan Investor Lebih Optimal

Pinnacle dan Manulife Maksimalkan Strategi SBN Demi Keuntungan Investor Lebih Optimal
Pinnacle dan Manulife Maksimalkan Strategi SBN Demi Keuntungan Investor Lebih Optimal

JAKARTA - Sejumlah manajer investasi (MI) menyiapkan strategi khusus untuk mengelola reksa dana berbasis Surat Berharga Negara (SBN). 

Langkah ini dilakukan meski outlook peringkat utang Indonesia menurun menjadi negatif. CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, menegaskan, “Selama indikator makro domestik masih cukup stabil, SBN tetap dipandang sebagai instrumen yang aman dan stabil oleh investor domestik.”

Guntur menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil (yield) SBN justru membuat valuasi instrumen semakin menarik. Hal ini berlaku terutama untuk investor jangka menengah hingga panjang. Selain itu, likuiditas tinggi SBN menjadikannya komponen penting dalam portofolio pendapatan tetap.

Strategi ini dilakukan agar portofolio reksa dana tetap terjaga dari risiko volatilitas. Pinnacle mempertahankan pendekatan selektif dan fleksibel dalam meracik produk berbasis SBN. Strategi ini juga mencakup pengelolaan durasi secara aktif, disesuaikan dengan dinamika suku bunga.

Pengelolaan Durasi dan Diversifikasi Portofolio

Pendekatan aktif atau active tactical duration strategy menjadi kunci dalam pengelolaan durasi SBN. Tujuannya untuk menyesuaikan portofolio dengan perubahan suku bunga dan kondisi pasar. Pemilihan tenor obligasi difokuskan pada titik yield curve yang paling optimal.

Diversifikasi instrumen juga menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko. Likuiditas dijaga agar portofolio responsif terhadap perubahan pasar. Dengan begitu, reksa dana berbasis SBN tetap menjadi pilihan aman bagi investor.

Selain itu, reksa dana campuran memanfaatkan SBN sebagai penyangga volatilitas. Instrumen obligasi membantu menyeimbangkan risiko dari komponen saham. “Secara umum, kami memandang SBN masih akan menjadi instrumen strategis dalam portofolio,” kata Guntur.

Strategi ini bertujuan menciptakan portofolio yang stabil meski kondisi pasar berfluktuasi. Pendekatan adaptif menjadi kunci agar investasi tetap memberikan hasil optimal. Investor diuntungkan karena risiko dapat dikontrol lebih baik.

Pandangan Manulife AM terhadap SBN

Director & Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula, menegaskan, penurunan peringkat utang tidak mengubah pembobotan SBN. Produk reksa dana milik MAMI tetap menempatkan SBN sebagai komponen utama. Menurutnya, obligasi menawarkan elemen defensif di tengah ketidakpastian pasar.

Ezra menjelaskan, MAMI tetap konstruktif terhadap pasar SBN karena permintaan domestik yang kuat. Selain itu, potensi penurunan suku bunga lebih lanjut menjadi faktor yang mendukung. “Dalam jangka pendek kami tetap berhati-hati dan terus memperhatikan perkembangan dan respons pemerintah serta regulator terkait penilaian Moody’s dan MSCI,” ujarnya.

Pihaknya melihat minat investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi masih tinggi. Hal ini mendorong kebutuhan investasi pada instrumen obligasi pemerintah. Suku bunga deposito perbankan yang menurun menjadi alasan tambahan untuk memilih SBN.

Strategi ini mencakup pemantauan perkembangan makroekonomi secara berkelanjutan. Investor didorong tetap adaptif agar dapat memanfaatkan peluang yield yang naik. Dengan demikian, SBN tetap menjadi instrumen yang relevan untuk berbagai profil investor.

Kenaikan Yield dan Peluang Entry Point

Pasca pengumuman Moody’s pada 5 Februari, terjadi kenaikan yield SBN. Kondisi ini mencerminkan pasar sudah menyesuaikan dengan penurunan rating utang pemerintah. Ezra menekankan bahwa kenaikan yield memberikan peluang bagi investor baru untuk masuk pasar.

Investor domestik, khususnya institusi, memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan portofolio. Penyesuaian pembobotan SBN dilakukan tanpa mengorbankan likuiditas atau risiko. Hal ini memungkinkan strategi investasi tetap efektif dalam berbagai skenario pasar.

Selain itu, proyeksi penurunan suku bunga lebih lanjut membuat entry point saat ini lebih menarik. Investor dapat memanfaatkan yield yang naik sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan jangka menengah hingga panjang. Strategi ini menjadi bagian dari pengelolaan risiko yang cermat.

Kondisi ini juga mendorong pengelola reksa dana untuk terus memantau dinamika pasar. Analisis yield curve dan durasi menjadi instrumen utama dalam pengambilan keputusan. Dengan pendekatan adaptif, investor tetap dapat memperoleh hasil optimal meski kondisi ekonomi berubah.

Realisasi SBN dan Tren Investor

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko mencatat, MI menghimpun SBN hingga Rp262,24 triliun hingga 18 Februari 2026. Angka ini meningkat dibandingkan Rp242,96 triliun pada 2025. Hal ini menunjukkan minat investor yang tetap tinggi meski outlook peringkat utang negatif.

Kondisi ini memperkuat posisi SBN sebagai instrumen utama dalam portofolio reksa dana pendapatan tetap. Pendekatan strategis dalam pemilihan tenor, durasi, dan likuiditas menjadi kunci keberhasilan investasi. Investor domestik dan institusi tetap mengandalkan SBN untuk menjaga stabilitas portofolio.

Ezra menekankan bahwa pengelolaan SBN tidak hanya defensif, tetapi juga adaptif terhadap kondisi pasar. Strategi ini memadukan keamanan instrumen dengan peluang return optimal. Dengan demikian, SBN tetap menjadi instrumen strategis yang mampu mendukung tujuan investasi berbagai jenis investor.

Guntur menambahkan, Pinnacle dan Manulife akan terus memantau perkembangan makro dan respons pasar. Kedua manajer investasi ini yakin SBN tetap menjadi pilihan utama bagi investor yang mencari kombinasi keamanan dan potensi cuan. Dengan strategi yang tepat, SBN tetap optimal meski kondisi ekonomi dan pasar global berubah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index