JAKARTA - Pemulihan infrastruktur dasar pascabencana di wilayah Sumatera menunjukkan progres yang sangat signifikan. Fokus utama pemerintah dalam mengembalikan denyut nadi kehidupan masyarakat pascatragedi alam kini mulai membuahkan hasil, terutama pada sektor ketenagalistrikan. Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, memberikan kabar baik mengenai kondisi layanan publik yang menjadi kebutuhan fundamental warga.
Berdasarkan laporan terbaru, aliran listrik di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera sudah hampir pulih sepenuhnya. Hal ini dianggap sebagai pencapaian krusial, mengingat energi listrik adalah motor penggerak bagi layanan dasar lainnya, mulai dari operasional fasilitas kesehatan hingga aktivitas ekonomi mikro di tingkat desa.
Sumatera Barat Capai Target Pemulihan Sempurna
Dalam koordinasi percepatan yang dilakukan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menonjol sebagai wilayah dengan tingkat pemulihan tercepat. Tito Karnavian mengungkapkan bahwa seluruh area terdampak di Sumbar kini sudah tidak lagi mengalami kegelapan. Keberhasilan ini menjadi tolok ukur penting bagi efektivitas koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan penyedia layanan infrastruktur.
Untuk indikator pemulihan di antaranya adalah hal-hal yang sangat mendasar diperlukan, seperti listrik, kemudian bahan bakar, baik bahan bakar minyak (BBM) maupun liquefied petroleum gas (LPG), serta sarana komunikasi dan internet. Penegasan ini disampaikan dalam Konferensi Pers di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta, yang fokus membahas langkah strategis rehabilitasi wilayah Sumatera.
Rincian Sisa Pekerjaan di Aceh dan Sumatera Utara
Meskipun secara umum kondisi kelistrikan di Sumatera sudah membaik, Satgas PRR masih mencatat adanya beberapa titik yang memerlukan penanganan ekstra. Kendala geografis dan tingkat kerusakan infrastruktur di lapangan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan untuk mencapai angka 100 persen di seluruh provinsi.
Berdasarkan data pemantauan hingga 8 Februari 2026, tercatat masih ada 13 desa di Provinsi Aceh yang saat ini aliran listriknya belum menyala. Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), progresnya jauh lebih mendekati akhir dengan menyisakan hanya dua desa yang masih mengalami padam listrik. Namun, untuk wilayah Sumatera Barat, Tito memastikan bahwa hambatan teknis telah teratasi sepenuhnya. “Saya ulangi, untuk di Sumbar semuanya sudah 100 persen,” jelas Tito.
Stabilitas Pasokan Energi dan Logistik BBM-LPG
Selain urusan kabel dan tiang listrik, Satgas PRR juga memberikan perhatian serius pada ketersediaan bahan bakar. Tanpa BBM dan LPG, mobilitas warga dan pemenuhan kebutuhan pangan harian akan terhambat. Kabar baiknya, distribusi energi di wilayah-wilayah terdampak dilaporkan telah kembali ke jalur normal dan dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
Tito menyampaikan bahwa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) serta agen LPG secara umum sudah beroperasi dengan lancar. Fokus pemerintah saat ini bergeser dari sekadar "memulihkan" menjadi "menjaga" agar distribusi tersebut tidak kembali terganggu. “Yang perlu dijaga adalah konsistensinya. Demikian juga listrik, sebagian besar sudah pulih,” tambahnya. Stabilitas ini menjadi kunci agar warga dapat memulai kembali rutinitas ekonomi tanpa dibayangi kelangkaan energi.
Sinergi Lintas Sektor untuk Percepatan Rekonstruksi
Kecepatan pemulihan yang terjadi di Sumatera merupakan buah dari sinergi yang intensif. Satgas PRR tidak bekerja sendirian; mereka bertindak sebagai dirigen yang mengoordinasikan berbagai kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan dalam menangani dampak bencana.
Tito Karnavian menegaskan bahwa koordinasi ini akan terus ditingkatkan hingga desa terakhir di Aceh dan Sumatera Utara mendapatkan kembali hak akses listriknya. Fokus Satgas tetap pada memastikan seluruh layanan dasar, termasuk telekomunikasi dan internet, kembali normal untuk mendukung transparansi informasi dan koordinasi bantuan di lapangan.
Membangun Kembali Infrastruktur yang Lebih Tangguh
Rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana bukan hanya soal mengembalikan apa yang hilang, tetapi juga memastikan apa yang dibangun kembali memiliki ketahanan yang lebih baik. Pemulihan listrik 100 persen di Sumatera Barat menjadi bukti bahwa respons cepat dapat meminimalisir dampak psikologis dan sosial pada masyarakat terdampak.
Melalui langkah-langkah yang terukur ini, pemerintah berharap kepercayaan masyarakat terhadap sistem mitigasi dan penanggulangan bencana semakin meningkat. Layanan listrik yang sudah kembali normal menjadi simbol bahwa kehidupan di Sumatera pascabencana telah siap untuk bangkit kembali lebih kuat. Satgas PRR berkomitmen untuk mengawal setiap sisa pekerjaan di desa-desa yang belum teraliri listrik agar visi pemulihan total segera tercapai dalam waktu dekat.