Gas

Pipa Gas WNTS-Pemping: Kunci Efisiensi dan Daya Saing Industri Batam

Pipa Gas WNTS-Pemping: Kunci Efisiensi dan Daya Saing Industri Batam
Pipa Gas WNTS-Pemping: Kunci Efisiensi dan Daya Saing Industri Batam

JAKARTA - Sektor industri di Batam tengah menatap masa depan yang lebih cerah seiring dengan langkah strategis pemerintah dalam memangkas biaya energi. Melalui PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), proyek pembangunan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping resmi dimulai. Proyek infrastruktur senilai Rp1 triliun ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan instrumen vital yang dirancang untuk merombak struktur biaya kelistrikan di Kepulauan Riau. Dengan mengalihkan pasokan gas yang sebelumnya berorientasi ekspor menjadi prioritas domestik, Batam bersiap mengunci efisiensi operasional bagi para investor global.

Groundbreaking yang dilaksanakan pada Selasa ini menandai babak baru bagi kemandirian energi kawasan. Selama ini, tingginya biaya logistik dan ketergantungan pada skema pasokan yang terbatas telah menjadi beban bagi sistem kelistrikan Batam. Kehadiran pipa WNTS-Pemping diharapkan mampu menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik secara signifikan, memberikan napas lega bagi sektor manufaktur yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Komitmen PLN EPI dalam Menjaga Stabilitas Tarif Listrik Industri

Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menegaskan bahwa kepastian pasokan gas domestik merupakan variabel utama dalam menjaga stabilitas tarif. Mengingat pembangkit berbasis gas adalah tulang punggung energi di Batam, akses langsung ke sumber gas Natuna akan memangkas rantai distribusi yang selama ini tidak efisien. Gas yang lebih dekat dan stabil secara berkelanjutan diyakini akan meningkatkan efisiensi pembangkitan secara drastis.

“Gas yang lebih dekat, stabil, dan berkelanjutan akan meningkatkan efisiensi pembangkitan. Ini menjadi faktor penting dalam menjaga tarif listrik tetap kompetitif bagi industri,” jelas Rakhmad di Batam. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa industri di Batam tidak hanya bertahan, tetapi juga memiliki daya saing yang lebih unggul dibandingkan kawasan industri serupa di negara-negara tetangga.

Prioritas Gas Domestik: Mengakhiri Dominasi Pasokan ke Singapura

Peta distribusi gas dari Natuna kini mengalami pergeseran haluan yang signifikan. Jika sebelumnya sebagian besar aliran gas tersebut menuju Singapura, proyek pipa WNTS-Pemping ini akan memastikan volume gas dialokasikan sepenuhnya untuk pasar dalam negeri. Dengan kapasitas awal sebesar 33 million standard cubic feet per day (MMscfd) dan target peningkatan hingga 111 billion British thermal unit per day (BBtud), kedaulatan energi di Kepulauan Riau semakin nyata.

PLN EPI memastikan bahwa seluruh alokasi volume gas tersebut didedikasikan untuk kebutuhan pembangkit listrik di Batam dan sekitarnya. Kepastian pasokan jangka panjang ini dinilai sangat krusial oleh para pengamat ekonomi. Pasalnya, stabilitas volume dan harga energi seringkali menjadi indikator utama bagi investor sebelum menanamkan modal dalam skala besar di sebuah kawasan industri.

Gas Sebagai Solusi Transisi Energi Paling Rasional bagi Batam

Di tengah tren global menuju energi bersih, pemilihan gas sebagai sumber utama pembangkitan di Batam dipandang sebagai langkah transisi yang paling logis. Keterbatasan potensi sumber daya alam seperti air (PLTA) dan energi gelombang di wilayah tersebut membuat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) skala besar membutuhkan waktu dan investasi yang jauh lebih masif.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menyebutkan bahwa meskipun energi surya bisa dikembangkan, gas tetap menjadi pilihan utama untuk beban dasar (base load) sistem kelistrikan. Keunggulan gas terletak pada stabilitas dan efisiensinya dibandingkan opsi energi lainnya untuk saat ini. “Untuk beban dasar sistem kelistrikan, gas tetap yang paling efisien dan stabil. Ini berpengaruh langsung terhadap biaya listrik industri,” tutur Rizal.

Progres Pembangunan dan Integrasi dengan Wilayah Kerja Duyung

Setelah sempat mengalami penundaan selama hampir sepuluh tahun, proyek pipa Pemping kini menunjukkan kemajuan yang sangat berarti. Sejak PLN EPI menerima penugasan langsung, progres pembangunan dilaporkan telah mencapai angka 72%. Integrasi pasokan juga akan diperkuat dengan gas yang berasal dari Wilayah Kerja Duyung, yang diproyeksikan mulai mengalir secara penuh (on stream) pada periode 2027–2028.

Dukungan juga datang dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menilai realokasi ini akan menurunkan risiko kenaikan biaya energi secara nasional. Kerja sama kontrak selama 11 tahun dengan volume 111 BBtud memberikan jaminan harga yang tetap, sehingga volatilitas pasar global tidak akan langsung menghantam tarif listrik masyarakat dan pelaku usaha.

Dukungan Pemerintah Kota Batam Terhadap Iklim Investasi

Pemerintah Kota Batam menyambut positif proyek strategis ini sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi. Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mencatat bahwa kebutuhan listrik di daerahnya tumbuh pesat sebesar 15% per tahun. Angka ini sejalan dengan tren investasi yang terus meroket, di mana pada tahun 2025 saja telah mencapai nilai Rp69,3 triliun.

Amsakar menekankan bahwa listrik adalah komponen biaya produksi yang paling dominan bagi industri manufaktur. Jika pasokan gas terjamin dan efisien, maka kenaikan tarif listrik dapat ditekan seminimal mungkin. “Kepastian pasokan gas akan membantu menahan kenaikan tarif dan menjaga iklim investasi tetap kompetitif,” tutup Amsakar. Sinergi antara infrastruktur energi dan kebijakan daerah ini diharapkan mampu menjaga posisi Batam sebagai magnet investasi di Asia Tenggara.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index