JAKARTA - Tekanan pasar saham masih terasa pada akhir pekan lalu, seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan yang kembali masuk zona merah.
Namun di tengah koreksi indeks, sejumlah saham justru mampu mencatatkan penguatan dan menjadi penopang pergerakan pasar.
Saham TLKM menjadi salah satu yang menonjol, sementara emiten properti PANI berhasil mencapai target penjualan, dan BUKA bersiap melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham.
Dinamika tersebut mencerminkan bahwa minat investor masih selektif, dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental, kinerja, serta strategi korporasi yang dinilai solid di tengah sentimen global yang belum sepenuhnya kondusif.
Pergerakan IHSG Dan Aktivitas Investor Asing
Indeks Harga Saham Gabungan menutup perdagangan Jumat (6/2) dengan pelemahan 2,08% ke level 7.935,26. Koreksi ini menempatkan IHSG kembali di zona negatif setelah sebelumnya bergerak fluktuatif mengikuti sentimen global dan regional.
Meski demikian, pelemahan indeks tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh saham. Sejumlah emiten tercatat masih mampu bergerak menguat. Saham TLKM naik 2,74%, SMMA melonjak 6,72%, serta AMRT menguat 2,26%. Di sisi lain, tekanan terlihat pada saham-saham perbankan dan otomotif, seperti BBCA yang turun 1,60%, BBRI melemah 1,82%, serta ASII terkoreksi 3,60%.
Dari sisi transaksi, investor asing justru mencatatkan pembelian bersih. Di pasar reguler, net buy asing mencapai Rp774,50 miliar, sementara di seluruh pasar tercatat sebesar Rp944,41 miliar. Aliran dana asing ini dinilai menjadi salah satu faktor penahan tekanan jual yang lebih dalam di pasar saham domestik.
Secara sektoral, mayoritas sektor berakhir di zona merah. Sebanyak 10 dari 11 sektor mencatatkan penurunan, dengan sektor Consumer Cyclical mengalami koreksi terdalam sebesar 5,11%. Sementara itu, sektor Transportation menjadi pengecualian dengan kinerja relatif lebih baik setelah naik 0,53%.
Sentimen Global Dan Respons Pasar Domestik
Sentimen negatif pasar turut dipengaruhi oleh revisi outlook dari Moody’s terhadap Indonesia. Meski demikian, dampaknya dinilai masih terbatas. Hal ini tercermin dari pergerakan indeks ETF dan indeks regional yang bergerak bervariasi, dengan ETF EIDO naik 0,51% sementara MSCI Indonesia turun 1,52%.
Aksi beli investor asing di pasar domestik menunjukkan bahwa minat terhadap saham Indonesia belum sepenuhnya luntur. Investor cenderung lebih selektif dengan fokus pada emiten yang dinilai memiliki ketahanan kinerja di tengah ketidakpastian.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi saham-saham tertentu untuk tetap mencatatkan penguatan, terutama emiten dengan sentimen spesifik atau katalis positif dari sisi kinerja maupun aksi korporasi.
Kinerja PANI Dan Penguatan Akses Kawasan
Dari sisi emiten, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mencatatkan kinerja penjualan yang solid sepanjang 2025. Perseroan membukukan realisasi marketing sales sebesar Rp4,30 triliun, yang ditopang oleh segmen residensial dengan kontribusi Rp2,00 triliun atau sekitar 47% dari total penjualan.
Kontribusi berikutnya berasal dari penjualan kaveling tanah komersial sebesar Rp1,20 triliun atau 28%, serta produk komersial senilai Rp1,07 triliun atau 25%. Capaian ini mencerminkan minat pasar yang masih terjaga terhadap properti di kawasan PIK, khususnya untuk segmen perumahan.
Untuk mendukung pengembangan kawasan PIK2, PANI telah mengoperasikan Nusantara International Convention and Exhibition (NICE) sejak Agustus 2025. Hingga kini, fasilitas tersebut tercatat telah menggelar 16 acara berskala nasional dan internasional.
Selain itu, keberadaan jalan tol KATARAJA yang menghubungkan PIK2 dengan Bandara Soekarno-Hatta dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan aksesibilitas kawasan, sekaligus memperkuat daya tarik investasi dan aktivitas bisnis di wilayah tersebut.
Aksi Korporasi BUKA Dan Rekomendasi Saham
PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) juga menjadi sorotan pasar dengan rencana aksi pembelian kembali saham. Perseroan menyiapkan dana sebesar Rp280,99 miliar untuk program buyback yang akan berlangsung pada periode 9 Februari hingga 8 Mei.
Aksi ini dilakukan setelah BUKA menyelesaikan program buyback sebelumnya yang berjalan dari 30 Oktober 2025 hingga 29 Januari 2026. Dalam pelaksanaannya, perseroan akan menunjuk satu perantara pedagang efek.
Setelah periode buyback berakhir, BUKA memiliki opsi untuk melakukan pengalihan atas saham hasil buyback sesuai ketentuan POJK Nomor 29 Tahun 2023, dengan jangka waktu maksimal tiga tahun.
Sementara itu, sejumlah rekomendasi saham harian juga menjadi perhatian investor, di antaranya MEDC, PANI, INDY, HRTA, dan TLKM dengan rentang harga beli, target harga, serta batas risiko yang telah ditetapkan. Meski demikian, seluruh rekomendasi tersebut bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
Investor tetap diimbau untuk mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas pasar yang masih berlangsung.