Strategi Pendorong Aset Dana Pensiun Tumbuh 12% Pada 2026

Rabu, 11 Februari 2026 | 09:55:29 WIB
Strategi Pendorong Aset Dana Pensiun Tumbuh 12% Pada 2026

JAKARTA - Target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk pertumbuhan aset dana pensiun sebesar 10% hingga 12% pada tahun 2026 dinilai sangat realistis oleh Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Proyeksi ini mencerminkan harapan yang stabil, seiring dengan capaian yang telah dicatatkan pada tahun 2025.

 Berdasarkan data per Desember 2025, total aset dana pensiun nasional telah tumbuh mencapai 11,35%, yang menunjukkan prospek yang positif bagi industri ini.

Ketua Umum Asosiasi DPLK, Tondy Suradiredja, menjelaskan bahwa banyak faktor yang dapat mendukung tercapainya proyeksi pertumbuhan ini. 

Di antaranya adalah pengembangan inklusi keuangan di kalangan pekerja informal melalui kanal distribusi digital, serta pengelolaan investasi yang prudent dengan fokus pada instrumen berkualitas tinggi. 

Hal ini penting untuk menjaga stabilitas imbal hasil yang diterima oleh peserta dana pensiun. Tondy menambahkan, semakin meningkatnya kesadaran dan literasi masyarakat mengenai pentingnya dana pensiun untuk memastikan kemandirian finansial di masa depan juga menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan sektor ini.

Perluasan Inklusi Keuangan Melalui Digitalisasi

Salah satu langkah kunci yang dapat mendukung pertumbuhan aset dana pensiun adalah perluasan inklusi keuangan. Tondy menekankan pentingnya pendekatan digital dalam memperluas akses ke dana pensiun, terutama bagi pekerja informal yang selama ini terpinggirkan dari sistem pensiun formal. 

Penggunaan kanal distribusi digital, yang memungkinkan onboarding peserta baru secara lebih efisien, menjadi strategi penting dalam menjangkau segmen ini.

Di sisi lain, perusahaan dana pensiun juga disarankan untuk menerapkan skema Life Cycle Fund. Skema ini akan memungkinkan dana pensiun untuk disesuaikan dengan profil risiko masing-masing peserta, sehingga imbal hasil yang dihasilkan lebih optimal sesuai dengan tahapan usia peserta. Implementasi skema ini diharapkan akan membantu peserta untuk merencanakan masa depan keuangan mereka secara lebih baik dan terarah.

Salah satu instrumen yang telah terbukti dapat mendorong pertumbuhan aset dana pensiun adalah Dana Kompensasi Pascakerja (DKP). Tondy mengungkapkan bahwa DKP dapat digunakan sebagai solusi bagi perusahaan untuk mencadangkan beban pesangon karyawan dengan cara yang lebih efisien dan terorganisir. 

Hal ini dapat memberikan dampak signifikan dalam mempercepat pertumbuhan aset dana pensiun, baik untuk peserta individu maupun korporasi.

Menggali Potensi Pekerja Informal dan Generasi Muda

Dalam rangka mencapai proyeksi pertumbuhan yang diharapkan, Tondy juga menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan potensi segmen pekerja informal dan generasi muda. 

Kedua segmen ini, meskipun saat ini masih minim kontribusinya terhadap total aset dana pensiun, memiliki potensi yang sangat besar dalam beberapa tahun ke depan. Untuk itu, diperlukan pendekatan yang lebih adaptif, termasuk melalui edukasi dan literasi yang menyentuh isu-isu relevan.

Salah satu isu yang dapat dimanfaatkan dalam edukasi adalah solusi untuk memutus rantai ‘sandwich generation’, yaitu generasi yang terjebak dalam kondisi harus mengurus orang tua yang sudah pensiun sekaligus membiayai anak-anak mereka. 

Edukasi yang memfokuskan pada solusi praktis untuk masalah ini dapat membantu generasi muda menyadari pentingnya mempersiapkan dana pensiun sejak dini.

“Melalui literasi dan edukasi yang menyentuh isu relevan, seperti solusi memutus rantai 'sandwich generation', kami yakin generasi muda akan menjadi motor pertumbuhan baru yang signifikan di masa depan,” tegas Tondy. 

Potensi ini tentu harus dimanfaatkan dengan maksimal, karena para pekerja muda yang teredukasi dengan baik akan menjadi peserta yang aktif dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan aset dana pensiun di masa depan.

Tantangan yang Masih Harus Dihadapi Industri Dana Pensiun

Meskipun prospek pertumbuhan sangat cerah, Tondy tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih membayangi sektor dana pensiun. Salah satu tantangan terbesar adalah volatilitas pasar keuangan yang dapat memengaruhi stabilitas imbal hasil.

 Fluktuasi pasar obligasi dan saham, serta perubahan dalam kondisi makroekonomi global, dapat mempengaruhi kinerja investasi dan menghambat pertumbuhan yang stabil.

Selain itu, tekanan daya beli masyarakat yang masih rendah juga menjadi salah satu faktor penghambat. Masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari cenderung menunda atau bahkan menghentikan iuran rutin ke dana pensiun. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan dana pensiun dalam menjaga kesinambungan arus iuran yang merupakan sumber utama untuk pertumbuhan aset.

Tondy juga mengingatkan pentingnya memulihkan kepercayaan publik terhadap industri dana pensiun. Sentimen negatif yang muncul di masa lalu terkait dengan pengelolaan dana pensiun harus segera diperbaiki agar masyarakat merasa aman dan nyaman untuk berkomitmen menjadi peserta jangka panjang. 

Pengelolaan yang transparan, akuntabel, dan mengutamakan kepentingan peserta adalah kunci utama dalam membangun kembali kepercayaan tersebut.

Kesimpulan: Peluang Besar di Masa Depan untuk Dana Pensiun

Sektor dana pensiun memiliki peluang besar untuk tumbuh dan berkembang pesat, asalkan beberapa faktor pendorong utama dimanfaatkan dengan baik. 

Perluasan inklusi keuangan melalui kanal distribusi digital, pemanfaatan skema Life Cycle Fund, serta edukasi kepada pekerja informal dan generasi muda merupakan langkah-langkah yang dapat mendorong pertumbuhan sektor ini.

Meskipun ada tantangan terkait volatilitas pasar dan daya beli masyarakat, dengan pengelolaan yang hati-hati dan penguatan kepercayaan publik, dana pensiun dapat mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. 

Dengan fondasi yang kuat dan strategi yang tepat, sektor dana pensiun Indonesia berpotensi menjadi pilar penting dalam meningkatkan kesejahteraan masa depan masyarakat.

Terkini