BUMN

Strategi Danantara Pangkas Jumlah BUMN Jadi 300 Entitas Tahun 2026

Strategi Danantara Pangkas Jumlah BUMN Jadi 300 Entitas Tahun 2026
Strategi Danantara Pangkas Jumlah BUMN Jadi 300 Entitas Tahun 2026

JAKARTA - Struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia sedang bersiap menghadapi perubahan peta bisnis yang radikal. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) secara resmi mengumumkan rencana besar untuk melakukan perampingan atau streamlining terhadap ribuan entitas di bawah naungan negara. Langkah ini merupakan bagian dari upaya transformasi ekonomi nasional agar perusahaan pelat merah tidak lagi terjebak dalam lini bisnis yang tidak relevan, sekaligus memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi sektor swasta untuk tumbuh.

Visi Besar Transformasi Struktur BUMN

Target yang dipatok oleh Danantara tidak main-main. Pada tahun 2026 ini, jumlah anak hingga cucu usaha BUMN yang saat ini mencapai .1043 entitas ditargetkan akan menyusut tajam menjadi hanya sekitar 300 entitas saja. Perombakan massal ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem BUMN yang lebih lincah, fokus, dan memiliki daya saing tinggi di level global tanpa harus mematikan bisnis masyarakat kecil.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, memaparkan rencana tersebut dalam perhelatan CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 yang mengusung tema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation”. Ia menegaskan bahwa efisiensi adalah kunci dari konsolidasi pertumbuhan ekonomi di masa depan.

Tiga Model Utama dalam Proses Streamlining

Dalam melakukan penataan ulang ini, Danantara tidak bergerak tanpa rencana. Terdapat tiga pilar utama yang menjadi landasan operasional dalam memangkas jumlah entitas BUMN. Salah satu model yang menjadi sorotan utama adalah pelepasan aset atau bisnis yang tidak berkaitan langsung dengan misi utama perusahaan induknya.

"Ada tiga model yang kita lakukan, yang pertama ada yang divestasi, saya setuju dengan tadi yang disampaikan memang kalau itu bisnis yang non-core," kata Dony Oskaria dalam acara yang berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, dikutip Kamis. Strategi ini diambil agar perusahaan negara tidak lagi membebani diri dengan manajemen operasional pada bidang yang bukan menjadi kompetensi inti mereka.

Daftar Divestasi Bisnis Non-Core di Berbagai Sektor

Danantara telah melakukan pemetaan mendalam terhadap unit-unit usaha yang masuk dalam kategori "non-core". Dony mengungkapkan beberapa contoh nyata yang akan segera dieksekusi. Di sektor konstruksi atau karya, perusahaan pengelolaan air akan dilepaskan karena skalanya dianggap tidak cukup signifikan bagi perusahaan induk.

Tak hanya itu, unit bisnis teknologi dan transportasi juga tak luput dari pembersihan. Perusahaan fiber optik yang berada di bawah PT PP, serta merek motor listrik Gesits yang kini berada di bawah Indonesia Battery Corporation (IBC) setelah sebelumnya diakuisisi WIKA, masuk ke dalam daftar divestasi. Sektor energi pun ikut berbenah, di mana unit travel agent milik Pertamina direncanakan untuk dilepas ke pasar.

Dony menekankan bahwa keterlibatan BUMN di masa lalu yang terlalu luas hingga masuk ke ranah bisnis kecil telah berdampak buruk bagi ekosistem usaha secara umum. "Jadi banyak perusahaan-perusahaan hasil mapping kami yang memang ini non-core itu akan kita divestasi, karena dulu pada basicnya BUMN itu masuk di semua hal, mulai dari besar sampai yang sangat kecil, akibatnya swastanya tidak kebagian," jelasnya.

Penataan Ulang Model Bisnis: Fokus PGN pada Distribusi

Selain divestasi, model kedua yang diterapkan adalah redefinisi model bisnis. Salah satu contoh paling nyata dalam penataan ulang ini adalah PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Danantara ingin memastikan setiap BUMN menjalankan fungsi strategisnya sesuai dengan mandat pendiriannya tanpa terjadi tumpang tindih peran.

Mulai tahun ini, PGN ditegaskan tidak lagi diperbolehkan beroperasi di sektor hulu (upstream). Fokus perusahaan kini dialihkan sepenuhnya pada sektor tengah (midstream) dan hilir (downstream). Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan jangkauan gas ke masyarakat secara langsung.

"Tugas mereka adalah menyalurkan gas sampai ke rumah-rumah, karena itu kita akan trial mulai di Batam, Batam kita akan melakukan pipanisasi ke seluruh rumah gas. Karena kita maunya PGN itu menjadi perusahaan gas negara yaitu untuk mendistribusikan gas," ujar Dony. Inisiatif di Batam ini akan menjadi proyek percontohan sebelum nantinya diimplementasikan di wilayah lain di Indonesia.

Membangun Ekosistem Bisnis yang Berkeadilan

Langkah agresif Danantara ini pada akhirnya memiliki tujuan jangka panjang untuk menciptakan tata kelola BUMN yang lebih transparan dan efisien. Dengan mengurangi jumlah entitas hingga lebih dari 70 persen, koordinasi antarperusahaan negara diharapkan menjadi lebih sederhana dan biaya birokrasi dapat ditekan serendah mungkin.

Selain itu, kebijakan divestasi ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha swasta. Dengan mundurnya BUMN dari sektor-sektor non-strategis, peluang bagi perusahaan swasta dan UMKM untuk mengisi kekosongan tersebut menjadi sangat besar. Hal ini selaras dengan visi pemerintah untuk menjadikan BUMN sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang bersifat inklusif, bukan sebagai kompetitor yang menghambat pertumbuhan sektor privat.

Harapan Pasca Transformasi Danantara

Transformasi yang diusung Danantara ini menjadi babak baru dalam sejarah manajemen korporasi negara di Indonesia. Fokus pada efisiensi, pelepasan bisnis yang tidak inti, dan penajaman fungsi setiap entitas diharapkan mampu meningkatkan dividen bagi negara secara signifikan.

BPI Danantara optimistis bahwa dengan menyisakan 300 entitas terpilih, BUMN akan menjadi jauh lebih sehat secara finansial dan lebih profesional dalam pelayanan publik. Pengawasan terhadap 300 perusahaan tentu akan jauh lebih efektif dibandingkan mengawasi lebih dari seribu perusahaan dengan model bisnis yang seringkali saling bersinggungan.

Dony Oskaria menutup paparannya dengan memberikan keyakinan bahwa restrukturisasi ini adalah fondasi penting untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menuju tahun 2026 yang lebih kompetitif. Publik kini menanti langkah-langkah nyata selanjutnya dari Danantara dalam mengeksekusi daftar divestasi tersebut dalam beberapa bulan ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index