Arsenal

Thomas Frank Dipecat Spurs Akibat Obsesi Berlebihan Pada Arsenal

Thomas Frank Dipecat Spurs Akibat Obsesi Berlebihan Pada Arsenal
Thomas Frank Dipecat Spurs Akibat Obsesi Berlebihan Pada Arsenal

JAKARTA - Berakhirnya masa jabatan Thomas Frank di Tottenham Hotspur menyisakan cerita yang lebih dalam dari sekadar statistik buruk di lapangan hijau. Di balik pengumuman resmi pemecatan manajer asal Denmark tersebut, muncul laporan mengenai ketidakharmonisan yang dipicu oleh sikap sang pelatih sendiri. Alih-alih menanamkan identitas klub yang kuat, Frank justru dikabarkan kerap memicu kekesalan di ruang ganti gara-gara terus-menerus menjadikan rival abadi mereka, Arsenal, sebagai tolok ukur utama.

Keretakan hubungan antara pelatih dan pemain ini dinilai menjadi salah satu faktor kunci mengapa performa The Lilywhites menukik tajam musim ini. Suasana internal yang tidak kondusif membuat instruksi taktik tidak lagi berjalan efektif, hingga akhirnya manajemen klub mengambil langkah tegas untuk menghentikan kerja sama demi menyelamatkan tim dari ancaman yang lebih besar.

Statistik Kelam yang Menenggelamkan Tottenham

Keputusan manajemen Spurs untuk mendepak Frank pada Rabu tidak lepas dari merosotnya posisi klub di tabel klasemen secara drastis. Performa buruk menjadi alasan utama pelatih berusia 52 tahun itu diberhentikan dari posisinya sebagai manajer kepala. Statistik menunjukkan bahwa Tottenham kehilangan sentuhan kemenangan mereka dalam periode yang cukup panjang.

Spurs cuma menang dua kali dalam 17 pertandingan liga terakhirnya atau sejak November lalu. Sisanya berakhir 6 kali imbang dan 9 kali kalah. Rentetan hasil negatif ini membuat Cristian Romero dkk terbenam di posisi 16 klasemen Liga Inggris. Kini, tim yang biasanya bersaing di papan atas tersebut harus menghadapi kenyataan pahit karena Spurs hanya berjarak lima poin dari zona merah.

Obsesi Arsenal yang Memicu Kejenuhan Pemain

Masalah teknis di lapangan rupanya diperparah oleh dinamika di luar lapangan. Thomas Frank disebut tak disenangi beberapa pemain Tottenham Hotspur karena sikapnya yang dianggap tidak sensitif terhadap rivalitas klub. Eks pelatih Brondby dan Brentford itu disebut kerap menyebut-menyebut Arsenal dalam tim, sesuatu yang dianggap tabu bagi sebagian besar penggawa Spurs.

Frank disebut selalu merujuk Arsenal dalam hal apa pun di dalam skuad Spurs. Telegraph melaporkan, hal itu bikin pemain Spurs kesal dan merasa tidak dihargai sebagai bagian dari identitas The Lilywhites. "Dia terus-menerus membicarakan Arsenal kepada para pemain, dan mereka cepat bosan dengannya. Bahkan sebelum dan setelah pertandingan di Emirates, dia terus mengatakan betapa hebatnya Arsenal. Perasaan di antara beberapa pemain sangatlah 'cukup sudah bicara tentang Arsenal'," kata sumber Telegraph.

Kontroversi Sikap Thomas Frank Sejak Awal Jabatan

Kecenderungan Frank untuk memuji sang tetangga sebelah sebenarnya sudah terlihat sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di London Utara. Di awal musim, Frank juga sempat menyebut-nyebut Arsenal dalam konferensi pers pertamanya di Spurs. Hal ini sejak awal sudah menimbulkan tanda tanya di kalangan pendukung mengenai loyalitas dan pemahamannya terhadap budaya klub.

Situasi semakin memanas setelah beberapa aksi Frank di luar lapangan dinilai tidak menghormati perasaan para pemain dan suporter. Belum lama ini, ia juga sempat minum air dari gelas berlogo Arsenal. Tindakan-tindakan kecil namun bermakna ini disinyalir menjadi akumulasi rasa tidak puas yang dirasakan oleh skuad Tottenham sepanjang kepemimpinannya.

Keretakan Komunikasi dan Hubungan Dingin di Lapangan

Selain masalah "obsesi" terhadap rival, hubungan personal Thomas Frank dengan beberapa pemain intinya juga dikabarkan telah mencapai titik terendah. Isyarat perpecahan ini sempat tertangkap kamera saat Tottenham menelan kekalahan di beberapa laga krusial, menunjukkan adanya jarak yang lebar antara staf pelatih dan para pemain di lapangan.

Hubungan Thomas Frank dengan beberapa pemainnya juga sempat disorot saat dikalahkan Chelsea Oktober lalu. Kala itu, ia tak disalami Micky van de Ven dan Djed Spence di lapangan. Meski pihak klub sempat membantah adanya masalah serius, momen dingin tersebut sudah cukup untuk membuatnya langsung jadi sorotan publik. Ketegangan tersebut memperjelas bahwa Frank telah kehilangan kendali atas ruang ganti sebelum surat pemecatan itu akhirnya datang.

Langkah Maju Spurs Tanpa Bayang-Bayang Rival

Kini, setelah Thomas Frank resmi menanggalkan jabatannya, Tottenham Hotspur dihadapkan pada tantangan untuk membangun kembali mentalitas tim yang sempat goyah. Tugas manajer baru nantinya bukan hanya sekadar memperbaiki posisi di klasemen, tetapi juga menyembuhkan hubungan internal dan mengembalikan kebanggaan pemain terhadap logo klub tanpa perlu membanding-bandingkan dengan kekuatan tim lawan secara berlebihan.

Perjalanan Spurs di sisa musim 2025/2026 akan menjadi ujian bagi para pemain untuk membuktikan bahwa mereka mampu bangkit setelah lepas dari kepemimpinan yang kontroversial tersebut.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index