JAKARTA - Teka-teki mengenai masa depan konsolidasi maskapai pelat merah akhirnya terjawab dengan kepastian yang nyata. Mulai tahun 2026, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) secara resmi akan memegang kendali sebagai induk organisasi bagi maskapai BUMN lainnya, yakni Pelita Air dan Citilink. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk penyatuan administratif, melainkan sebagai upaya strategis pemerintah dalam membangun satu ekosistem penerbangan nasional yang lebih tangguh, efisien, dan kompetitif.
Penggabungan ini menjadi tonggak sejarah baru dalam industri kedirgantaraan Indonesia. Dengan menyatukan kekuatan maskapai layanan penuh (full service), maskapai berbiaya rendah (low-cost carrier), hingga layanan penerbangan carter dan logistik dalam satu atap, pemerintah berharap dapat memberikan layanan yang lebih terintegrasi bagi masyarakat sekaligus memperkuat struktur keuangan grup maskapai negara tersebut.
Target Rampung pada Kuartal Pertama 2026
Proses integrasi besar-besaran ini tidak akan memakan waktu lama. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) selaku pemegang mandat investasi negara memastikan bahwa seluruh proses penggabungan industri maskapai ini dijadwalkan selesai pada periode awal tahun ini. Kecepatan eksekusi menjadi poin penting agar transformasi bisnis dapat segera dirasakan dampaknya.
Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, memberikan penegasan mengenai tenggat waktu yang ditetapkan oleh instansinya. "(Penggabungan) Garuda di kuartal I," ujarnya sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia pada Rabu, 11 Februari 2026. Target yang ambisius ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk segera merestrukturisasi aset-aset strategis negara agar lebih produktif.
Pemisahan Antara Masalah dan Konsep Bisnis
Dalam menjalankan misi penggabungan ini, Danantara menekankan pentingnya profesionalisme dan ketelitian. Penyatuan Pelita Air—yang sebelumnya berada di bawah naungan PT Pertamina (Persero)—ke dalam grup Garuda Indonesia dilakukan dengan prinsip kehati-hatian yang sangat ketat. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa setiap entitas dapat memberikan kontribusi positif dalam satu wadah yang sama.
Dony memaparkan bahwa konsep dasar dari penggabungan ini adalah menciptakan sinergi antar-bisnis. Menurutnya, pemisahan antara permasalahan internal yang mungkin ada dengan konsep bisnis masa depan adalah hal yang krusial. "Makanya kan saya selalu bilang kan, kita harus pisahkan antara problem dengan konsep, setiap bisnis itu dia harus menyatu di dalam satu ekosistem airlines kita kan," ungkap Dony menjelaskan landasan filosofis di balik keputusan holding tersebut.
Transformasi Berkelanjutan di Bawah Monitoring Danantara
Kekhawatiran publik mengenai stabilitas layanan selama masa transisi juga menjadi perhatian serius. Manajemen Danantara memberikan jaminan bahwa proses pembenahan di tubuh Garuda Grup akan terus berlangsung. Peran Danantara tidak hanya berhenti pada proses penggabungan, melainkan berlanjut pada pengawasan dan monitoring yang ketat terhadap jalannya transformasi bisnis agar tetap berada pada koridor yang benar.
Dony berharap masyarakat tetap optimis dan memberikan dukungan penuh terhadap langkah berani ini. Pembenahan internal dan eksternal akan terus dilakukan guna memastikan kualitas layanan tidak menurun, melainkan justru semakin meningkat pasca-konsolidasi. "Pasti kita harus monitor juga proses transformasi daripada Garuda Indonesia, ini nantinya lebih bagus," tutup Dony dengan nada optimistis.
Harapan Baru Bagi Layanan Penerbangan Nasional
Hadirnya Garuda Indonesia sebagai induk bagi Citilink dan Pelita Air diprediksi akan mengubah peta persaingan industri penerbangan di tanah air. Dengan koordinasi yang lebih baik dalam hal manajemen armada, penentuan rute, hingga efisiensi biaya operasional, grup ini diharapkan mampu menawarkan pilihan terbang yang lebih beragam dan ekonomis bagi masyarakat luas.
Pemerintah melalui Danantara berkomitmen agar transformasi ini menghasilkan sebuah entitas dirgantara yang tidak hanya besar secara ukuran, tetapi juga sehat secara finansial. Integrasi ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tengah bergerak menuju pengelolaan aset negara yang lebih modern, di mana setiap unit bisnis saling mendukung dalam satu ekosistem yang solid demi kepentingan nasional dan kenyamanan seluruh pengguna jasa transportasi udara di Indonesia.