Begadang

Begadang Ternyata Berkaitan dengan Penyakit Jantung, Studi Terbaru Ungkap Risikonya

Begadang Ternyata Berkaitan dengan Penyakit Jantung, Studi Terbaru Ungkap Risikonya
Begadang Ternyata Berkaitan dengan Penyakit Jantung, Studi Terbaru Ungkap Risikonya

JAKARTA - Kebiasaan begadang ternyata membawa dampak lebih dari sekadar rasa lelah keesokan harinya. 

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang terbiasa tidur larut malam memiliki risiko lebih tinggi terhadap kesehatan jantung dibanding mereka yang tidur lebih awal. Risiko ini mencakup kemungkinan lebih besar mengalami serangan jantung maupun stroke, menegaskan pentingnya pola tidur yang sehat.

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa tidur bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi bagian integral dari gaya hidup sehat. Jam tidur yang terganggu dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk tekanan darah dan kadar gula. Kesadaran akan dampak jangka panjang dari begadang menjadi langkah awal untuk perubahan kebiasaan.

Selain itu, tidur larut juga dapat menimbulkan kelelahan kronis yang memengaruhi kemampuan konsentrasi dan produktivitas. Orang yang begadang cenderung lebih sering mengalami stres dan gangguan suasana hati. Oleh karena itu, penyesuaian ritme tidur menjadi strategi penting dalam pencegahan risiko penyakit jantung.

Hasil Penelitian Besar tentang Begadang

Studi yang meneliti lebih dari 322.000 orang dewasa di Inggris menunjukkan hubungan kuat antara begadang dan risiko kesehatan jantung. Peserta penelitian dibagi berdasarkan kebiasaan tidur, mulai dari tipe pagi, tipe tengah, hingga tipe malam. Analisis dilakukan selama hampir 14 tahun untuk memantau kondisi kesehatan jantung mereka.

Kesehatan jantung peserta dinilai menggunakan delapan faktor, termasuk kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola makan, kadar gula darah, tekanan darah, dan kualitas tidur. 

Hasil penelitian menemukan bahwa orang dengan kebiasaan begadang memiliki kemungkinan hampir 80 persen lebih tinggi mengalami kondisi kesehatan jantung yang buruk. Risiko mereka juga tercatat 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke dibanding kelompok tidur menengah.

Penelitian ini menekankan bahwa pengaruh begadang terhadap jantung tidak bisa dianggap sepele. Data yang panjang dan besar menunjukkan konsistensi hubungan antara tidur larut dan komplikasi kardiovaskular. Temuan ini menjadi peringatan bagi mereka yang mengabaikan kualitas dan jam tidur setiap malam.

Gaya Hidup Sebagai Faktor Utama

Selain jam tidur, gaya hidup menjadi faktor signifikan yang memengaruhi risiko jantung pada mereka yang terbiasa begadang. 

Sekitar 75 persen peningkatan risiko disebabkan oleh kebiasaan sehari-hari, termasuk merokok, pola makan tidak sehat, dan kurang aktivitas fisik. Gangguan tidur yang buruk juga menjadi kontributor utama masalah kesehatan jantung.

Merokok menjadi penyumbang risiko terbesar, diikuti ketidakteraturan tidur, kadar gula darah tinggi, dan berat badan berlebih. Orang yang terbiasa begadang disarankan lebih disiplin dalam menjaga kebiasaan sehat. Dengan perbaikan gaya hidup, risiko jantung dapat ditekan meski jam tidur larut tetap terjadi sesekali.

Selain itu, kombinasi olahraga rutin, pengaturan pola makan, dan pengendalian stres dapat menurunkan risiko. Mengubah kebiasaan sehari-hari terbukti lebih efektif daripada hanya memaksakan tidur lebih awal tanpa memperbaiki gaya hidup. Pendekatan holistik ini membantu menjaga kesehatan jantung secara menyeluruh.

Peran Jam Biologis Tubuh

Kecenderungan begadang berkaitan erat dengan jam biologis atau ritme sirkadian tubuh. Pada orang yang tidur larut, hormon melatonin yang memicu kantuk muncul lebih lambat dari biasanya. Sebaliknya, hormon kortisol yang membuat tubuh tetap terjaga juga meningkat lebih siang, membuat tubuh kurang selaras dengan siklus siang-malam.

Ketidakseimbangan jam biologis ini dapat memicu tekanan darah tinggi di malam hari, peradangan, dan gangguan metabolisme gula serta lemak. Semua kondisi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan risiko penyakit jantung. Kurang tidur atau tidur tidak teratur juga berdampak pada kolesterol, gula darah, dan berat badan.

Ahli jantung menekankan pentingnya tidur yang cukup dan teratur untuk menjaga fungsi tubuh. Ritme biologis yang sehat membantu tubuh memproses nutrisi dan energi secara optimal. Menyesuaikan pola tidur dengan jam biologis dapat menjadi strategi efektif mencegah komplikasi jantung.

Mengurangi Risiko dengan Perubahan Kebiasaan

Menjadi orang yang terbiasa begadang tidak berarti pasti akan terkena penyakit jantung. Risiko masih bisa ditekan melalui perbaikan kebiasaan sehari-hari, termasuk menjaga jam tidur, berolahraga rutin, menghindari rokok, dan memperbaiki pola makan. 

Pendekatan ini lebih efektif dibanding sekadar memaksakan tidur lebih awal tanpa memperhatikan gaya hidup secara keseluruhan.

Langkah sederhana seperti mengatur waktu tidur, memperbanyak aktivitas fisik, dan mengonsumsi makanan bergizi dapat membawa perubahan besar. Konsistensi dalam perilaku sehat menjadi kunci utama menurunkan risiko jantung. Dengan disiplin, bahkan orang dengan kebiasaan tidur larut tetap bisa mempertahankan kesehatan jantung yang optimal.

Pencegahan dini melalui perbaikan pola tidur dan gaya hidup akan membantu mencegah komplikasi jangka panjang. Edukasi masyarakat tentang hubungan begadang dan risiko jantung perlu terus digalakkan. Kesadaran dan tindakan nyata menjadi langkah penting untuk hidup lebih sehat dan mencegah penyakit kardiovaskular di masa depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index