JAKARTA - Pengamat pariwisata dari Universitas Andalas mengingatkan pemerintah untuk segera melakukan langkah antisipasi terhadap potensi krisis transportasi massal di destinasi wisata.
Pakar Pariwisata Universitas Andalas Sari Lenggogeni mengungkapkan bahwa ketersediaan sarana transportasi yang memadai merupakan tulang punggung bagi pergerakan wisatawan domestik maupun mancanegara secara luas.
Berdasarkan tinjauan pada Selasa 10 Februari 2026 krisis transportasi massal dapat menjadi penghambat serius bagi target kunjungan wisatawan jika tidak segera ditangani dengan solusi yang konkret.
Ketiadaan akses transportasi yang terintegrasi dan terjangkau akan berdampak langsung pada biaya perjalanan yang membengkak sehingga menurunkan minat wisatawan untuk mengunjungi objek wisata di daerah.
Oleh karena itu diperlukan adanya kolaborasi lintas sektor antara kementerian perhubungan dan dinas pariwisata guna menciptakan sistem mobilitas yang efisien bagi para pelancong di seluruh Indonesia.
Sari menekankan bahwa kenyamanan wisatawan dalam menggunakan angkutan umum menjadi salah satu indikator keberhasilan sebuah destinasi wisata dalam memenangkan persaingan di tingkat global yang sangat kompetitif.
Urgensi Integrasi Moda Transportasi di Destinasi Unggulan
Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada pembangunan objek wisata baru tetapi juga wajib memperhatikan bagaimana cara wisatawan mencapai lokasi tersebut dengan aman dan nyaman.
Integrasi antara bandara, terminal, dan stasiun menuju titik-titik wisata harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan tata ruang kota yang berbasis pada pengembangan industri pariwisata masa depan.
Banyak destinasi potensial yang sulit berkembang karena kendala aksesibilitas sehingga wisatawan cenderung hanya berkumpul pada titik tertentu yang mengakibatkan terjadinya kelebihan beban pada kapasitas infrastruktur yang ada.
Dampak Krisis Transportasi Terhadap Ekonomi Lokal
Jika krisis transportasi massal dibiarkan maka pelaku usaha kecil di sekitar lokasi wisata akan kehilangan potensi pendapatan akibat berkurangnya volume kunjungan wisatawan yang datang ke wilayah tersebut.
Peningkatan jumlah angkutan umum yang layak dan terjadwal akan mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama dan menjelajahi lebih banyak tempat yang secara otomatis akan meningkatkan perputaran uang.
Sari juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam sistem pemesanan transportasi massal agar wisatawan mendapatkan kepastian jadwal dan harga yang transparan tanpa adanya praktik pungutan liar di lapangan kerja.
Tantangan Pengelolaan Transportasi Berbasis Lingkungan
Selain aspek kuantitas pengembangan transportasi massal di kawasan wisata juga harus mulai mengadopsi konsep kendaraan ramah lingkungan guna mendukung tren pariwisata berkelanjutan yang sedang mendunia saat ini.
Penggunaan bus listrik atau penyediaan jalur sepeda dan fasilitas pejalan kaki yang nyaman akan memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus menjaga ekosistem alam tetap terjaga dari polusi udara.
Langkah ini sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi emisi karbon di sektor pariwisata yang selama ini dianggap sebagai salah satu penyumbang limbah dan polusi yang cukup besar.
Solusi Strategis Menghadapi Lonjakan Wisatawan
Menghadapi musim libur panjang pemerintah perlu menyiapkan armada tambahan serta mengatur skema rekayasa lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan parah yang bisa merusak citra positif pariwisata daerah di mata publik.
Edukasi kepada masyarakat lokal tentang pentingnya menggunakan transportasi massal juga perlu ditingkatkan agar kepadatan kendaraan pribadi di area wisata dapat dikurangi secara perlahan melalui kebijakan yang sangat tegas.
Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal pendanaan pengadaan unit transportasi massal baru menjadi kunci penting agar standar pelayanan di tiap daerah bisa setara dan berkualitas internasional.
Melalui langkah mitigasi yang tepat diharapkan sektor pariwisata Indonesia dapat terus tumbuh secara stabil tanpa harus terkendala oleh masalah klasik mengenai sulitnya akses transportasi bagi para wisatawan.
Penyelesaian masalah transportasi ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia sebagai negara tujuan wisata utama di Asia Tenggara yang memiliki konektivitas antarwilayah yang sangat handal dan modern.