Penetapan Awal Ramadhan 2026: Sidang Isbat Tentukan Puasa 1447H

Jumat, 13 Februari 2026 | 13:39:26 WIB
Penetapan Awal Ramadhan 2026: Sidang Isbat Tentukan Puasa 1447H

JAKARTA - Momen penetapan 1 Ramadan 2026 menjadi salah satu hal yang terus dibahas oleh umat Islam di Indonesia. Bagi masyarakat Muslim, awal puasa bukan hanya sekadar tanggal di kalender, namun juga menjadi titik penting untuk persiapan ibadah, tradisi keluarga, hingga kegiatan sosial yang menyesuaikan dengan jadwal puasa. 

Di Indonesia, proses penentuan awal Ramadan selalu diwarnai dengan berbagai perbedaan pandangan yang mengacu pada metode yang berbeda dalam menentukan tanggal awal puasa. 

Pemerintah, ormas Islam, dan lembaga astronomi memiliki peran kunci dalam proses ini, dan momen ini semakin dekat dengan pelaksanaan Sidang Isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama.

Metode Penentuan Awal Ramadan di Indonesia

Proses penetapan 1 Ramadan di Indonesia melibatkan dua pendekatan utama: hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit). 

Berdasarkan informasi yang dilansir Baznas, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama bekerja sama dengan organisasi masyarakat Islam dan lembaga astronomi untuk memastikan keseragaman dalam pelaksanaan ibadah puasa. Salah satu metode yang digunakan adalah perhitungan konjungsi bulan dan matahari, yang akan membantu menentukan awal bulan Ramadan. 

Meski demikian, perbedaan metode perhitungan ini kadang menyebabkan perbedaan tanggal awal puasa, baik di tingkat nasional maupun antarwilayah.

Jadwal Sidang Isbat untuk Penetapan 1 Ramadan 2026

Sebagai langkah terakhir dalam menentukan awal Ramadan, Kementerian Agama Republik Indonesia akan menggelar Sidang Isbat untuk menetapkan 1 Ramadan 1447H. 

Sidang tersebut dijadwalkan pada Selasa, 17 Februari 2026, yang akan dimulai pada pukul 16.00 WIB di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta. Sidang ini akan dipimpin oleh Menteri Agama, Nasarudin Umar, dan akan melibatkan berbagai pihak yang memiliki keahlian di bidangnya, baik dalam bidang falak (astronomi) maupun rukyatul hilal.

Sidang Isbat akan terdiri dari tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pemaparan hasil perhitungan astronomi mengenai posisi hilal atau bulan sabit muda. 

Kemudian, tahap kedua adalah verifikasi hasil pengamatan hilal dari berbagai titik di Indonesia. Terakhir, musyawarah dan pengambilan keputusan akan dilakukan untuk menetapkan tanggal 1 Ramadan secara resmi.

Potensi Perbedaan Awal Ramadan 2026

Meski Sidang Isbat bertujuan untuk mencapai keseragaman dalam penetapan awal Ramadan, perbedaan tetap mungkin terjadi, terutama mengingat penggunaan dua metode yang berbeda dalam menentukan awal bulan. 

Sebagai contoh, Muhammadiyah, yang menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, telah memutuskan bahwa 1 Ramadan 1447H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. 

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Sidang Isbat memperkirakan 1 Ramadan akan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) yang menggabungkan rukyatul hilal dengan perhitungan hisab, kemungkinan akan menetapkan awal puasa pada Kamis, 19 Februari 2026 juga.

Namun, perbedaan ini tidak perlu menjadi sumber perpecahan. Pemerintah mengimbau agar masyarakat tetap menghormati perbedaan ini dan menunggu pengumuman resmi dari Sidang Isbat sebagai acuan nasional. Dalam suasana kebersamaan, umat Islam di Indonesia diajak untuk tetap menjaga prinsip toleransi dan ukhuwah Islamiyah.

Pengaruh Metode Hisab dan Rukyatul Hilal dalam Penentuan Awal Puasa

Perbedaan yang muncul dalam penetapan awal Ramadan biasanya terjadi karena perbedaan dalam penerapan metode hisab atau rukyatul hilal. Bagi Muhammadiyah, perhitungan astronomi (hisab) yang akurat menjadi dasar dalam menentukan awal Ramadan, dan hasil perhitungannya menyebutkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026. 

Sedangkan bagi NU, pengamatan hilal atau rukyatul hilal menjadi bagian penting untuk memastikan awal bulan, meski mengakui perhitungan astronomi juga sebagai pendukung. Oleh karena itu, Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama diharapkan dapat memberikan kesepakatan bersama mengenai tanggal awal puasa yang berlaku secara nasional.

Dalam beberapa kasus, ketika hasil rukyatul hilal yang dilakukan di beberapa lokasi Indonesia menunjukkan bahwa hilal tidak terlihat atau belum memenuhi kriteria, pemerintah dapat menunda awal Ramadan satu hari. Hal ini dapat menyebabkan perbedaan tanggal antara kelompok yang menggunakan metode hisab dan mereka yang mengandalkan rukyatul hilal.

Jadwal Ramadan 1447H Menurut Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah

Berikut adalah prediksi awal Ramadan 1447H menurut beberapa pihak:

Muhammadiyah: Berdasarkan metode hisab, 1 Ramadan 1447H diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026, dan Idul Fitri pada 20 Maret 2026.

Nahdlatul Ulama (NU): Menggunakan kombinasi metode rukyatul hilal dan hisab, diperkirakan 1 Ramadan 1447H jatuh pada 19 Februari 2026, dengan Idul Fitri pada 21 Maret 2026.

Pemerintah Indonesia: Berdasarkan hasil Sidang Isbat, 1 Ramadan 1447H diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026, dengan Idul Fitri pada 21 Maret 2026.

Meskipun perbedaan ini mungkin ada, pemerintah mengajak umat Islam untuk tetap menghormati perbedaan dan menunggu keputusan resmi dari Sidang Isbat sebagai acuan utama. Toleransi dan kesatuan dalam menjalankan ibadah adalah prinsip yang diutamakan agar Ramadan kali ini bisa dijalankan dengan penuh kedamaian dan keberkahan.

Terkini