Alasan Bursa Saham Masih Akan Berfluktuasi Tinggi Hingga Mei 2026

Kamis, 12 Februari 2026 | 10:32:37 WIB
Alasan Bursa Saham Masih Akan Berfluktuasi Tinggi Hingga Mei 2026

JAKARTA - Pasar modal Indonesia saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Tekanan hebat dari lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), telah memicu gelombang fluktuasi yang diperkirakan masih akan menghantui lantai bursa dalam beberapa bulan ke depan. Namun, di balik awan mendung volatilitas ini, tersimpan sebuah katalisator besar bagi perubahan fundamental yang selama ini dinantikan oleh para investor: percepatan reformasi bursa.

Ketidakpastian yang menyelimuti pergerakan saham bukan sekadar dinamika pasar biasa, melainkan sebuah respons terhadap tuntutan transparansi yang lebih ketat. Meskipun kondisi ini menciptakan tantangan jangka pendek bagi para pelaku pasar, langkah tegas pemerintah dan otoritas bursa untuk berbenah dipandang sebagai investasi besar bagi kesehatan pasar modal Indonesia di masa depan.

Proyeksi Fluktuasi dan Tenggat Waktu MSCI

Para analis pasar memperkirakan bahwa ketenangan di lantai bursa belum akan kembali dalam waktu dekat. Chief Investment Officer, Equity, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma memperkirakan fluktuasi tinggi di bursa saham masih terjadi dua hingga tiga bulan ke depan. Fluktuasi ini disebabkan oleh masih adanya ketidakpastian hingga tenggat waktu yang diberikan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Mei 2026.

Merespons peringatan MSCI, pemerintah mengambil sejumlah langkah strategis. Beberapa di antaranya meliputi peningkatan free float menjadi 15 persen, pengungkapan data kepemilikan saham dari ambang batas 5 persen menjadi 1 persen, serta percepatan proses demutualisasi bursa. “Positifnya, peristiwa ini akan mempercepat reformasi bursa menjadi lebih sehat secara jangka panjang dan mengembalikan daya tarik terhadap saham berbasis fundamental,” ucap Samuel dalam keterangan tertulis pada Rabu, 11 Februari 2026.

Strategi Investasi di Tengah Gejolak Pasar

Menghadapi kondisi pasar yang sangat dinamis, pendekatan yang berorientasi pada nilai menjadi sangat krusial. Dalam mengantisipasi volatilitas jangka pendek di pasar saham, MAMI punya strategi untuk terus berfokus pada investasi di perusahaan yang memiliki fundamental baik serta diperdagangkan dalam valuasi yang wajar. Ketajaman dalam memilih aset menjadi kunci agar investor tidak terjebak dalam arus kepanikan massal.

Menurut Samuel, dalam jangka pendek, aksi jual yang terjadi secara merata membuat valuasi saham-saham dengan fundamental yang baik menjadi makin menarik bagi investor jeli. Koreksi pasar ini pun direspons oleh program buyback yang diumumkan oleh emiten-emiten yang merasa harga sahamnya saat ini berada di bawah nilai wajarnya. “Setelah level kepanikan mereda, kami melihat ada peluang pemulihan di saham-saham yang mencatat pertumbuhan laba dan arus kas yang baik,” ujarnya.

Transparansi: Sorotan Utama Investor Global

Inti dari permasalahan yang memicu gejolak ini sebenarnya berakar pada kepercayaan investor terhadap struktur pasar. Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan investor khawatir akan transparansi struktur kepemilikan saham Indonesia. “Meskipun telah ada perbaikan minor terhadap data float PT Bursa Efek Indonesia, investor menyoroti bahwa masalah fundamental terkait dengan kemampuan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat,” ucap MSCI dalam pengumumannya, seperti dikutip pada 28 Januari 2026.

Kekhawatiran mengenai praktik "perdagangan terkoordinasi" inilah yang merusak mekanisme pembentukan harga yang wajar (price discovery). Investor global menuntut sistem yang lebih bersih di mana harga saham mencerminkan kinerja perusahaan yang sebenarnya, bukan hasil dari pergerakan yang diatur oleh segelintir pihak di balik layar.

Langkah Nyata BEI dan OJK Menuju Maret 2026

Untuk mengatasi kekhawatiran tersebut, MSCI mengatakan dibutuhkan informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham—termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi—untuk mendukung penilaian terhadap free float serta kemampuan investasi di semua saham Indonesia. Karena itu, MSCI mengambil tindakan berupa pembekuan sementara penyesuaian saham bagi Indonesia.

Sebagai bentuk respons cepat, Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan kemudian merespons dengan berencana menyesuaikan aturan pencatatan saham, termasuk ketentuan free float saham per Maret 2026. Langkah ini diharapkan dapat menjawab keraguan pasar global dan membawa bursa saham Indonesia kembali ke radar investasi yang kredibel. Reformasi ini memang menyakitkan di awal, namun esensial untuk membangun fondasi bursa yang kuat dan tahan banting.

Terkini