Kisah Sutarto Dapatkan Sambung Listrik Gratis PLN Light Up The Dream

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:29:57 WIB
Kisah Sutarto Dapatkan Sambung Listrik Gratis PLN Light Up The Dream

JAKARTA - Bagi sebagian besar masyarakat perkotaan, menekan saklar lampu adalah aktivitas mekanis yang biasa. Namun, bagi Sutarto (47), seorang warga di pelosok perbukitan Gunungkidul, cahaya yang memancar dari bohlam di langit-langit rumahnya sejak Jumat adalah sebuah kemewahan yang ia nantikan selama hampir 30 tahun. Penantian panjang untuk memiliki akses energi secara mandiri akhirnya terbayar melalui inisiatif sosial para pegawai PLN.

Langkah ini bukan sekadar urusan penyambungan kabel, melainkan upaya mengembalikan martabat dan kenyamanan bagi keluarga yang selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan daya. Melalui program bertajuk Light Up The Dream (LUTD), potret kemiskinan energi di wilayah pedesaan coba dihapuskan satu per satu, memberikan kesempatan bagi warga kurang mampu untuk merajut mimpi yang lebih terang.

Berakhirnya Masa Menumpang Listrik Selama 29 Tahun

Sejarah keseharian Sutarto di Dusun Rejosari, Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, adalah catatan tentang kesabaran. Sejak tahun 1997, ia harus menyambung aliran listrik dari rumah orang tuanya untuk menghidupi kebutuhan rumah tangga. Hidup dengan "menyalur" berarti harus siap dengan segala keterbatasan daya dan rasa tidak enak hati yang terus membayangi selama hampir tiga dasawarsa.

Kini, pemandangan itu telah berubah. Sutarto menjadi salah satu dari empat warga Kalurahan Serut yang menerima bantuan Sambung Listrik Gratis dengan daya 900 VA. Dengan instalasi mandiri ini, ia tidak lagi perlu khawatir akan beban listrik yang terbatas atau perasaan sungkan kepada kerabatnya.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Sekarang rumah sudah punya listrik sendiri. Dahulu harus nyalur dari rumah orang tua, rasanya sungkan dan terbatas,” ujar Sutarto dengan mata berkaca-kaca, menggambarkan betapa besarnya arti kemandirian energi bagi harga dirinya.

Dampak Bagi Pendidikan dan Ekonomi Keluarga di Perbukitan

Keterbatasan listrik selama puluhan tahun bukan hanya soal gelapnya malam, tetapi juga tentang terhambatnya potensi masa depan. Di rumah sederhananya, Sutarto membesarkan tiga orang anak. Selama ini, aktivitas belajar anak-anaknya seringkali terganggu karena penerangan yang tidak memadai. Kini, dengan adanya listrik mandiri, hambatan tersebut sirna.

Sutarto, yang memiliki pengalaman bekerja sebagai tukang bangunan di Malaysia, dan istrinya yang aktif membantu ekonomi keluarga dengan berjualan jajanan di dusun, kini melihat peluang baru. Listrik 900 VA yang mereka miliki menjadi modal dasar untuk meningkatkan kualitas hidup, mulai dari kenyamanan belajar anak hingga potensi pengembangan usaha rumahan sang istri. Cahaya kini hadir bukan sekadar sebagai pengusir gelap, melainkan sebagai katalisator pendidikan dan ekonomi keluarga.

Filantropi Pegawai PLN Melalui Light Up The Dream

Ada cerita menarik di balik bantuan yang diterima Sutarto. Program Light Up The Dream bukanlah program yang didanai oleh anggaran perusahaan secara formal, melainkan murni lahir dari empati para pegawai PLN. Mereka menyisihkan sebagian penghasilannya melalui iuran sukarela untuk membantu warga yang kesulitan membayar biaya penyambungan listrik baru.

Sepanjang Januari hingga awal Februari 2026, PLN UP3 Yogyakarta telah menunjukkan konsistensinya dengan menyalurkan 11 bantuan serupa di wilayah D.I. Yogyakarta. Jika ditarik ke belakang, pada tahun 2025 saja, sudah ada 127 keluarga yang merasakan manfaat dari kedermawanan kolektif para pejuang kelistrikan ini.

Mewujudkan Keadilan Energi bagi Seluruh Masyarakat

General Manager PLN UID Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta, Bramantyo Anggun Pambudi, menegaskan bahwa esensi dari program ini adalah pemerataan akses. Listrik adalah hak dasar yang seharusnya bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, terutama bagi mereka yang berada di garis kemiskinan.

“Melalui LUTD, pegawai PLN ingin menghadirkan keadilan energi bagi masyarakat yang membutuhkan. Kami percaya, listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga membuka peluang untuk pendidikan, ekonomi, dan kualitas hidup yang lebih baik,” ungkap Bramantyo.

Pernyataan ini menegaskan bahwa PLN tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan teknik, tetapi juga memiliki fungsi sosial untuk menjangkau titik-titik terjauh yang selama ini belum tersentuh oleh kemandirian energi.

Menyalakan Kembali Mimpi dari Dusun Rejosari

Bagi keluarga Sutarto, hari-hari ke depan akan terasa berbeda. Tidak ada lagi lampu yang redup saat beban puncak atau rasa khawatir saat anak-anak harus mengejar tugas sekolah di malam hari. Kehadiran listrik mandiri ini menjadi babak baru yang menghapus trauma keterbatasan selama tiga dekade terakhir.

Mimpi-mimpi yang sempat tertunda kini kembali menyala seiring dengan terang yang hadir di setiap sudut ruangan rumah mereka. Sutarto kini bisa menatap masa depan dengan lebih optimis, meyakini bahwa akses terhadap energi adalah awal dari perbaikan nasib keluarganya. Dari pelosok Gunungkidul, kisah Sutarto menjadi pengingat bahwa sekecil apapun cahaya yang diberikan, ia mampu membangkitkan harapan besar bagi mereka yang telah lama berada dalam temaram.

Terkini