Garuda Indonesia Ditunjuk Jadi Induk Holding BUMN Penerbangan Nasional

Kamis, 12 Februari 2026 | 08:29:47 WIB
Garuda Indonesia Ditunjuk Jadi Induk Holding BUMN Penerbangan Nasional

JAKARTA - Lanskap industri penerbangan pelat merah Indonesia bersiap memasuki babak baru yang lebih terintegrasi. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah mengarsiteki pembentukan holding BUMN penerbangan dengan menempatkan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk sebagai pemimpin atau induk organisasi. Langkah ambisius ini dirancang untuk menyatukan kekuatan maskapai nasional dalam satu komando guna menciptakan efisiensi operasional yang lebih tinggi.

Di bawah payung holding ini, Garuda Indonesia tidak lagi berjalan sendiri. Maskapai full service ini akan menaungi dua entitas besar lainnya, yakni Citilink dan Pelita Air. Integrasi ini diharapkan mampu menghapus tumpang tindih peran dan memperkuat segmentasi pasar, mulai dari layanan premium hingga penerbangan berbiaya rendah (LCC), sehingga daya saing maskapai milik negara semakin kokoh di kancah domestik maupun internasional.

Percepatan Pemisahan Pelita Air dari Sektor Migas

Salah satu kunci utama dalam pembentukan holding ini adalah proses pemisahan atau spin-off Pelita Air dari induk sebelumnya, PT Pertamina (Persero). Kebijakan ini selaras dengan arahan Danantara yang menginginkan Pertamina untuk kembali fokus pada bisnis intinya di sektor minyak dan gas bumi.

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, memberikan konfirmasi langsung mengenai susunan kepemimpinan dalam aliansi baru ini. “Iya, Garuda Indonesia induk (holding maskapai), (di bawahnya) ada Citilink, ada Pelita," ujar Dony saat ditemui di Hotel Kempinski Jakarta, Selasa (10/2) malam. Targetnya pun tidak main-main; proses penggabungan Pelita Air ke dalam ekosistem Garuda Indonesia diharapkan tuntas pada kuartal I tahun ini.

Target Konsolidasi Kilat di Kuartal I 2026

Danantara bergerak cepat dalam mengeksekusi rencana ini. Kecepatan menjadi esensi penting agar kepastian usaha bagi ketiga maskapai tersebut segera terwujud. Dony optimistis bahwa proses perpindahan Garuda Indonesia ke bawah kendali Danantara serta integrasi maskapai lainnya akan berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

"Garuda di kuartal I ini udah pindah, cepat mereka," katanya. Kelincahan proses ini menunjukkan adanya keselarasan visi antara manajemen maskapai dengan BPI Danantara selaku pengelola investasi. Dengan bersatunya Pelita Air ke dalam grup Garuda, diharapkan akan terjadi sinergi armada dan rute yang lebih optimal, sehingga tidak ada lagi perebutan pasar yang kontraproduktif antar-perusahaan milik negara.

Transformasi Lini Bisnis BUMN Secara Masif

Pembentukan holding penerbangan hanyalah satu bagian dari rencana besar konsolidasi BUMN yang sedang dijalankan oleh Danantara sepanjang tahun ini. Perusahaan ini sedang melakukan pembenahan besar-besaran untuk memastikan setiap BUMN fokus pada kompetensi intinya masing-masing.

"Jadi paralel selama satu tahun ini kita lakukan proses konsolidasi ini. Jadi mulai dari yang paling dekat itu pasti IHC, rumah sakit ya kan, hotel, kemudian tadi airlines, asuransi lagi kita review, kemudian bisnis yang lainnya apa lagi, ada juga yang kita, apa namanya, divestasi, kemudian bisnis yang non-related, itu kita lakukan proses," jelas Dony. Strategi ini diambil untuk memastikan tidak ada lagi BUMN yang memiliki unit bisnis "anak tiri" yang tidak relevan dengan bisnis utamanya.

Mewujudkan Ekosistem BUMN yang Lebih Profesional

Melalui restrukturisasi ini, Dony menekankan bahwa kinerja perusahaan-perusahaan negara akan menjadi lebih terukur dan profesional. Dengan memisahkan bisnis non-migas dari Pertamina dan menggabungkan sektor-sektor yang serupa ke dalam satu wadah spesifik, tumpang tindih penugasan yang selama ini menjadi beban bisa diminimalisir.

"Jadi memang nanti perusahaan BUMN kita tuh bagus-bagus nanti, rumah sakit sendiri, hotel sendiri, asuransi sendiri, oil and gas sendiri, airline sendiri. Jadi lebih baik, lebih proper," pungkasnya. Visi ini menunjukkan keinginan kuat pemerintah agar BUMN Indonesia tidak hanya besar secara ukuran, tetapi juga sehat secara manajemen dan lincah dalam merespons dinamika pasar.

Optimisme Menuju Industri Penerbangan yang Sehat

Hadirnya Garuda Indonesia sebagai induk holding penerbangan membawa angin segar bagi industri dirgantara nasional. Dengan dukungan Citilink yang kuat di segmen LCC serta Pelita Air yang memiliki rekam jejak solid, grup ini diprediksi akan menjadi kekuatan dominan yang lebih efisien. Konsolidasi ini diharapkan tidak hanya memperbaiki neraca keuangan masing-masing perusahaan, tetapi juga meningkatkan kualitas layanan bagi masyarakat luas sebagai pengguna jasa transportasi udara.

Pemerintah melalui BPI Danantara berkomitmen untuk mengawal proses ini hingga tuntas, memastikan bahwa setiap tahapan transisi berjalan transparan dan memberikan nilai tambah bagi negara. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi tahun transformasi krusial bagi wajah baru penerbangan Indonesia.

Terkini