JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) ditunjuk menjadi induk holding maskapai penerbangan nasional pada kuartal I-2026.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya restrukturisasi dan konsolidasi ekosistem aviasi yang dilakukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Penunjukan Garuda diharapkan memperkuat posisi industri penerbangan di Indonesia secara menyeluruh.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa penunjukan ini sejalan dengan rencana transformasi pemerintah. Ia menekankan pentingnya memisahkan persoalan historis Garuda dengan konsep besar ekosistem maskapai nasional.
"Kita harus pisahkan antara problem dengan konsep. Setiap bisnis itu harus menyatu di dalam satu ekosistem airlines," kata Dony.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pemulihan sektor aviasi. Dengan adanya holding maskapai, koordinasi antar anak usaha diharapkan berjalan lebih mudah. Transformasi ini juga membuka peluang pertumbuhan industri penerbangan nasional secara berkelanjutan.
Target Konsolidasi BUMN
Danantara menargetkan tahun ini memangkas jumlah anak hingga cucu usaha BUMN dari 1.043 entitas menjadi 300 entitas. Langkah ini dilakukan untuk menyederhanakan struktur korporasi pelat merah. Konsolidasi diharapkan mempermudah pengelolaan dan pengawasan seluruh entitas BUMN.
Dony menegaskan bahwa pemetaan 300 entitas yang tersisa akan dibagi berdasarkan sektor. Dengan cara ini, pengawasan menjadi lebih fokus dan efisien. "Tapi kalau 300 kita sudah proses mapping itu jauh lebih mudah. Toh dari 300 kalau kita bagi by sector kita hanya masuk 16 saja," katanya.
Pengurangan jumlah entitas BUMN juga bertujuan mengefisiensikan proses bisnis. Banyak anak usaha BUMN sebelumnya mengerjakan proyek dari induk secara terpisah. Efisiensi ini diyakini akan mengurangi inefisiensi biaya hingga puluhan triliun per tahun.
Dampak Konsolidasi pada Kinerja BUMN
Konsolidasi BUMN diproyeksikan akan meningkatkan kinerja bottom line perusahaan pelat merah. Proses ini memungkinkan pengurangan biaya transaksi internal antar anak usaha. Dony menjelaskan bahwa efisiensi terbesar datang dari menyederhanakan struktur bisnis yang selama ini kompleks dan tumpang tindih.
Selain itu, menutup anak usaha yang merugi akan menambah keuntungan perusahaan. Dengan langkah ini, BUMN dapat langsung menambah bottom line senilai triliunan rupiah. "Jadi konsolidasi dengan menutup anak cucu BUMN itu, kita dapat tambahan Rp 50 triliun," kata Dony.
Langkah ini tidak hanya menguntungkan dari sisi keuangan, tetapi juga memperkuat daya saing BUMN. Perusahaan yang bertahan akan memiliki kapasitas lebih untuk fokus pada proyek strategis. Efisiensi ini menjadi pondasi bagi pertumbuhan jangka panjang industri pelat merah.
Keamanan Hubungan Kerja Karyawan
Terkait konsolidasi, Dony memastikan tidak akan ada pemangkasan hubungan kerja (PHK). Karyawan dari perusahaan yang ditutup akan bergabung dengan perusahaan yang tetap beroperasi. "Tapi tidak usah khawatir, tidak akan ada PHK karena akan konsolidasi dan karyawan ikut," katanya.
Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi BUMN tetap memperhatikan aspek sosial. Dengan cara ini, stabilitas kerja para karyawan tetap terjaga. Hal ini juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses restrukturisasi yang dilakukan Danantara.
Selain itu, penggabungan karyawan memungkinkan transfer keahlian antar perusahaan. Karyawan dapat mendukung proyek strategis di perusahaan induk atau anak usaha lain. Dengan demikian, konsolidasi berjalan efisien tanpa menimbulkan ketidakpastian bagi tenaga kerja.
Prospek Industri Penerbangan dan BUMN
Dengan Garuda sebagai holding maskapai, diharapkan tercipta struktur industri penerbangan yang lebih solid. Efisiensi operasional dan koordinasi antar entitas akan menjadi lebih optimal. Hal ini membuka peluang bagi pertumbuhan sektor aviasi yang lebih cepat dan berkelanjutan.
Konsolidasi BUMN menjadi langkah penting dalam restrukturisasi ekonomi pelat merah. Pengurangan anak dan cucu usaha memungkinkan pengelolaan lebih fokus dan strategis. Dengan dukungan transformasi ini, BUMN diharapkan mampu memperkuat kinerja dan kontribusi bagi perekonomian nasional.
Secara keseluruhan, penunjukan Garuda sebagai induk holding maskapai dan konsolidasi BUMN menunjukkan komitmen pemerintah untuk menciptakan ekosistem bisnis yang efisien.
Transformasi ini diharapkan membawa keuntungan jangka panjang bagi industri dan tenaga kerja. Dengan koordinasi yang tepat, masa depan sektor aviasi dan BUMN terlihat semakin menjanjikan.