JAKARTA - Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan struktur jantung yang hadir sejak lahir.
Kondisi ini bisa mengganggu aliran darah di jantung dan ke seluruh tubuh. Mengetahui gejala sejak dini membantu penanganan lebih cepat dan mengurangi risiko komplikasi serius.
Data menunjukkan sekitar 8 dari 1.000 bayi lahir dengan PJB. Dari angka tersebut, satu per empat bayi memerlukan intervensi bedah atau non-bedah segera. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemantauan kesehatan anak sejak lahir.
Meskipun penyebab pasti PJB belum diketahui, beberapa faktor genetik berperan. Kelainan genetik yang tidak diwariskan, seperti Down syndrome, serta yang diwariskan dari orang tua, seperti Turner syndrome, menjadi faktor risiko. Memahami kemungkinan faktor genetik dapat membantu orang tua mempersiapkan penanganan dini.
Faktor Eksternal yang Bisa Memicu PJB
Selain genetika, faktor eksternal juga dapat memicu PJB pada janin. Infeksi seperti rubella dan sifilis selama kehamilan berisiko menimbulkan kelainan jantung pada bayi. Konsumsi obat tertentu, misalnya obat anti jerawat atau obat anti epilepsi pada fase pembentukan jantung janin, juga berpotensi menimbulkan PJB.
Orang tua yang merencanakan kehamilan disarankan berkonsultasi dengan dokter mengenai riwayat pengobatan. Pemeriksaan dan persiapan kesehatan sebelum hamil dapat mengurangi risiko gangguan pada jantung bayi. Memastikan kondisi kesehatan optimal menjadi langkah pencegahan awal yang krusial.
Penting pula menjaga pola hidup sehat selama kehamilan. Nutrisi seimbang, kontrol penyakit kronis, dan vaksinasi yang direkomendasikan dokter menjadi perlindungan tambahan. Kesadaran ini membantu mengurangi potensi komplikasi PJB.
Gejala PJB: Beberapa Anak Tak Bergejala
Beberapa anak dengan PJB tidak menunjukkan gejala pada awal kehidupan. Namun, indikator yang bisa muncul antara lain pertumbuhan dan perkembangan lambat, infeksi paru berulang, atau gagal jantung. Gejala lain dapat berupa biru pada bibir, lidah, dan ujung kuku akibat kekurangan oksigen, baik menetap atau terpicu saat menangis atau beraktivitas.
Orang tua menjadi garda depan untuk mengenali tanda PJB. Bayi dengan PJB cenderung cepat lelah, terlihat dari pola menyusu yang sering terputus-putus. Anak yang lebih besar bisa sering jongkok karena kelelahan, yang menjadi salah satu tanda yang perlu diwaspadai.
Selain itu, tanda lain meliputi demam dengan sesak berulang, pertumbuhan tidak sesuai teman sebaya meski makan normal, dan pembengkakan pada perut atau tungkai bawah. Kesadaran orang tua terhadap gejala ini penting agar tindakan medis bisa dilakukan lebih cepat.
Cara Menegakkan Diagnosis PJB
Diagnosis PJB dimulai dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik anak. Dokter akan menilai gejala, riwayat kesehatan, dan tanda-tanda fisik yang muncul sejak lahir. Pemeriksaan penunjang seperti sinar-X dada dan elektrokardiografi dilakukan untuk menilai kondisi umum jantung dan aktivitas listriknya.
Gold standard untuk menegakkan diagnosis adalah echocardiography. Alat ini menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur jantung dan aliran darah secara real time. Dengan echocardiography, dokter dapat menentukan jenis PJB dan tingkat keparahannya.
Selain itu, minimal invasive procedure menggunakan kateter juga dapat dilakukan. Alat ini membantu dokter menilai aliran darah dan tekanan di ruang jantung serta pembuluh darah. Pendekatan ini sangat berguna untuk rencana intervensi bedah atau non-bedah.
Penanganan dan Pentingnya Deteksi Dini
Deteksi dini PJB memungkinkan penanganan lebih cepat dan efektif. Beberapa kasus membutuhkan tindakan bedah segera, sementara yang lain dapat ditangani secara non-bedah. Penanganan tepat waktu dapat meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan risiko komplikasi serius.
Selain intervensi medis, pemantauan rutin juga penting. Orang tua harus memastikan kontrol kesehatan anak berjalan sesuai jadwal dokter. Pola hidup sehat, nutrisi seimbang, dan stimulasi pertumbuhan juga mendukung pemulihan anak dengan PJB.
Dengan pemahaman tentang gejala, faktor risiko, dan metode diagnosis, keluarga dapat lebih siap menghadapi PJB. Kesadaran dan langkah pencegahan sejak kehamilan hingga pertumbuhan anak menjadi kunci utama. Penanganan dini dan tepat menjadikan PJB bukan halangan untuk anak tumbuh sehat.