JAKARTA - Di bawah terik matahari Desa Ambela, warna kuning keemasan hamparan padi yang siap panen menjadi saksi bisu kemanunggalan TNI dan rakyat. Kehadiran sosok berseragam loreng di tengah pematang sawah bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bentuk nyata dukungan moral bagi para pahlawan pangan. Sertu Markus Ratunguri, Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Ambela, turun langsung mendampingi para petani padi sawah yang sedang melaksanakan proses panen raya pada Selasa.
Langkah proaktif ini merupakan bagian integral dari tugas pembinaan teritorial. Dengan menyapa langsung para petani, TNI berupaya mempererat tali silaturahmi sekaligus memastikan bahwa semangat gotong royong tetap terjaga di wilayah binaan. Kehadiran Babinsa di lapangan menjadi suntikan motivasi bagi masyarakat agraris di Talaud untuk terus produktif meski dihadapkan pada berbagai tantangan zaman.
Komitmen TNI Memperkokoh Kemanunggalan di Sektor Pertanian
Keterlibatan Sertu Markus Ratunguri dalam aktivitas panen ini menunjukkan bahwa peran Babinsa melampaui urusan keamanan semata. Dalam setiap bulir padi yang dipanen, terdapat harapan akan stabilitas ketahanan pangan daerah yang lebih kuat. Dengan memantau langsung proses pemotongan padi hingga pengecekan kualitas hasil tani, Sertu Markus memastikan bahwa hasil kerja keras petani Desa Ambela memenuhi standar yang diharapkan.
Kegiatan ini juga menjadi sarana efektif untuk memperkokoh kemanunggalan TNI dengan rakyat. Dengan berada di barisan yang sama dengan petani, batasan formalitas mencair, menciptakan ruang komunikasi yang jujur dan hangat. Pendampingan ini membuktikan bahwa TNI selalu hadir di tengah kesulitan maupun kebahagiaan masyarakat, terutama dalam menyukseskan program ketahanan pangan nasional yang menjadi prioritas pemerintah.
Menyerap Aspirasi Petani Melalui Komunikasi Sosial Kreatif
Di sela-sela riuhnya aktivitas panen, Sertu Markus memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan komunikasi sosial (komsos) yang dialogis. Sambil beristirahat di pinggir sawah, dialog santai tercipta antara sang bintara dan para pemilik lahan. Dalam ruang diskusi terbuka inilah, berbagai dinamika lapangan terungkap secara alami.
Para petani tidak segan-segan menumpahkan keluh kesah mereka mengenai proses produksi yang mereka jalani selama satu musim tanam terakhir. Dialog ini menjadi sangat krusial karena seringkali permasalahan di tingkat akar rumput tidak tersampaikan dengan baik ke pembuat kebijakan jika tidak ada jembatan komunikasi yang solid seperti yang diperankan oleh Babinsa.
Tantangan Biaya Produksi dan Tingginya Harga Pestisida
Salah satu poin utama yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah beban biaya operasional yang semakin mencekik. Petani di Desa Ambela mengeluhkan lonjakan harga pestisida dan obat-obatan pertanian yang tidak sebanding dengan harga jual hasil panen. Masalah ini menjadi hambatan utama bagi petani untuk meningkatkan skala produksi mereka di masa depan.
Ketergantungan pada input kimia yang mahal membuat margin keuntungan petani menipis. Keluhan ini dicatat dengan saksama oleh Sertu Markus sebagai bahan laporan yang mendesak. Tanpa adanya intervensi harga atau bantuan subsidi yang tepat sasaran, dikhawatirkan semangat petani dalam menggarap sawah akan menurun, yang pada akhirnya dapat mengancam kedaulatan pangan di tingkat desa.
Langkah Koordinasi Strategis Bersama Dinas Pertanian Terkait
Mendengar aspirasi tersebut, Sertu Markus Ratunguri memberikan respons yang solutif dan menenangkan. Ia menegaskan bahwa tugasnya tidak berhenti pada pendampingan fisik di sawah saja, tetapi juga mencakup advokasi terhadap kesejahteraan petani. Beliau berkomitmen untuk segera membawa permasalahan harga pestisida dan obat-obatan ini ke meja diskusi yang lebih tinggi.
Rencana tindak lanjut yang akan diambil adalah melakukan koordinasi intensif dengan para penyuluh lapangan serta Dinas Pertanian setempat. Tujuannya jelas: mencari solusi berkelanjutan, baik itu melalui skema bantuan pemerintah, pengadaan pupuk dan obat-obatan bersubsidi, maupun edukasi mengenai alternatif pertanian organik yang lebih ekonomis namun tetap produktif.
Harapan Peningkatan Kesejahteraan Melalui Sinergi Lintas Sektor
Melalui sinergi yang terbangun kuat dalam kegiatan komsos ini, muncul harapan besar bagi masa depan agraris di Desa Ambela. Kesuksesan panen kali ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi peningkatan taraf hidup para petani. Jika kendala biaya produksi dapat diatasi melalui koordinasi yang baik antara TNI, petani, dan instansi pemerintah, maka kesejahteraan bukan lagi sekadar impian.
Program ketahanan pangan nasional hanya bisa berjalan sukses jika fondasi di tingkat desa, seperti di Desa Ambela, memiliki ketahanan yang tangguh. Dengan pendampingan yang konsisten dari Babinsa, diharapkan setiap musim tanam dapat dilalui dengan hasil yang maksimal, menjadikan Talaud sebagai salah satu lumbung pangan yang disegani di wilayahnya.
Menjaga Motivasi Petani Demi Kedaulatan Pangan Nasional
Menutup kegiatannya di sawah, Sertu Markus kembali mengingatkan pentingnya konsistensi dalam bertani. Motivasi yang diberikan bukan sekadar kata-kata penyemangat, melainkan dukungan nyata bahwa petani tidak berjuang sendirian. Stabilitas pangan adalah kunci stabilitas nasional, dan setiap jengkal sawah di Desa Ambela adalah benteng pertahanan bagi kedaulatan bangsa.
Sinergi antara Babinsa dan petani ini diharapkan terus berlanjut tidak hanya pada masa panen, tetapi juga sejak pengolahan lahan hingga masa tanam berikutnya. Dengan pengawalan yang ketat dan komunikasi yang lancar, segala hambatan teknis maupun non-teknis diharapkan dapat dimitigasi lebih dini demi kemajuan sektor pertanian di Kabupaten Talaud secara keseluruhan.