Ruud Gullit Jagokan Robin van Persie Tukangi Manchester United Masa Depan

Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33:42 WIB
Ruud Gullit Jagokan Robin van Persie Tukangi Manchester United Masa Depan

JAKARTA - Dunia kepelatihan sepak bola modern selalu penuh dengan kejutan, terutama ketika menyangkut kembalinya para legenda ke klub yang pernah mereka besarkan. Baru-baru ini, sebuah proyeksi menarik muncul dari legenda besar Belanda, Ruud Gullit. Mantan peraih Ballon d’Or tersebut secara terang-terangan memberikan dukungannya agar Robin van Persie suatu hari nanti menduduki kursi manajer di Manchester United. Meskipun Van Persie saat ini tengah berjuang melewati badai tekanan di kompetisi domestik Belanda, Gullit percaya bahwa potensi manajerial mantan kapten Arsenal itu sangatlah besar.

Dukungan ini mencuat di tengah dinamika bursa pelatih Eropa yang kian kompetitif. Sosok Van Persie dinilai memiliki pemahaman taktik yang tajam dan karakteristik kepemimpinan yang telah terasah sejak masa jayanya sebagai pemain. Gullit melihat adanya benang merah antara kualitas kepemimpinan Van Persie saat masih merumput dengan kemampuannya meramu strategi di pinggir lapangan saat ini.

Transformasi Ikon Arsenal Menjadi Pahlawan Old Trafford

Untuk memahami mengapa Van Persie dianggap layak memimpin tim sebesar Manchester United, kita harus menilik kembali sejarah panjangnya di Liga Primer Inggris. Robin van Persie dikenal sebagai salah satu striker terbaik yang pernah dimiliki Arsenal setelah direkrut Arsene Wenger pada 2004. Selama delapan musim berseragam The Gunners, Van Persie mencetak 132 gol dari 278 penampilan lintas kompetisi dan memegang sejumlah rekor klub, termasuk torehan gol terbanyak Arsenal dalam satu musim dan satu tahun kalender Liga Primer Inggris.

Namun, sejarah mencatat sebuah kejutan besar pada tahun 2012. Kehebatan itu membuatnya dipercaya sebagai kapten Si Meriam London pada 2011/12, yang ironisnya menjadi musim terakhirnya di London utara. Keretakan hubungannya dengan manajemen Arsenal berujung pada transfer kontroversial ke Manchester United. Keputusan tersebut terbukti tepat secara profesional, dengan Van Persie langsung menjadi sosok sentral di Old Trafford. Ia mencetak 30 gol pada musim debutnya dan membawa tim asuhan Sir Alex Ferguson menjuarai Liga Inggris 2012/13, sekaligus meraih Sepatu Emas untuk musim kedua berturut-turut.

Dukungan Penuh Ruud Gullit dan Realitas Eredivisie

Ruud Gullit meyakini bahwa rekam jejak gemilang sebagai pemain hanyalah awal dari karier panjang Van Persie. Menurut Gullit, Van Persie telah berkembang menjadi “manajer yang hebat” sejak gantung sepatu dan suatu hari nanti layak memimpin Man United. Gullit melihat ada bakat kepemimpinan alami yang terpancar dari cara Van Persie menangani skuatnya, meski tantangan yang dihadapi saat ini di Belanda tidaklah mudah.

“Akan luar biasa jika Robin van Persie suatu saat nanti melatih Manchester United,” ujar Gullit dilansir Metro. “Saya benar-benar berharap itu bisa terjadi di masa depan.” Namun, Gullit juga memberikan catatan kritis mengenai situasi Van Persie saat ini. "Robin manajer hebat, tapi saat ini dia sedang kesulitan di Feyenoord. Saya merasa ekspektasi terhadapnya tinggi sekali gara-gara kariernya sebagai pemain, ia pun jadi jauh lebih disorot dibanding manajer lain di Eredivisie."

Gullit menyadari bahwa sorotan tajam media Belanda bisa menjadi beban tersendiri. Namun, ia tetap optimis: “Ia sedang mendapat sorotan tajam di Belanda, tapi saya berharap dia diberi waktu untuk memperbaiki keadaan dan membuktikan kualitasnya,” tambah Gullit. "Lihatlah apa yang terjadi dengan Sir Alex Ferguson di Manchester United. Mereka mempertahankannya dan lihat betapa hebatnya ia di akhir kariernya."

Perjalanan Karier Manajerial di Heerenveen dan Feyenoord

Langkah Van Persie di dunia kepelatihan dimulai dengan cukup berani. Ia memulai karier kepelatihannya dengan menjadi manajer termuda dalam sejarah Heerenveen di usia 41 tahun pada 2024. Meskipun periode di Heerenveen dianggap kurang sukses, reputasi dan kecerdasannya membuatnya tetap dipercaya menangani klub masa kecilnya, Feyenoord, pada awal 2025. Ia datang untuk menggantikan Brian Priske yang dipecat setelah dianggap gagal meneruskan warisan Arne Slot yang kini menukangi Liverpool.

Awal kariernya di De Kuip sebenarnya sempat memberikan harapan tinggi. Van Persie tak terkalahkan dengan delapan kemenangan dalam sembilan laga pertama Eredivisie 2025/26. Namun, momentum positif tersebut mendadak ambyar begitu Feyenoord kalah 3-2 di tangan PSV pada pekan ke-10. Kekalahan tersebut seolah menjadi titik balik yang menurunkan performa tim secara keseluruhan.

Tantangan Berat dan Kegagalan di Kompetisi Piala

Statistik menunjukkan bahwa musim pertama Van Persie di Feyenoord penuh dengan kerikil tajam. Meski klub yang bermarkas di De Kuip itu berada di peringkat dua klasemen liga, mereka tertinggal 17 poin dari PSV yang tampil begitu dominan dan kokoh di puncak klasemen setelah 22 pertandingan. Kesenjangan poin yang lebar ini menjadi bahan kritik utama bagi para pengamat di Belanda.

Kekecewaan penggemar semakin bertambah ketika Feyenoord tersingkir dari Piala KNVB. Ironisnya, mereka dikalahkan oleh Heerenveen, mantan klub asuhan Van Persie sendiri. Di level internasional, situasinya tidak jauh lebih baik. Feyenoord gagal lolos dari kualifikasi Liga Champions dan harus turun ke Liga Europa. Di kompetisi kasta kedua Eropa tersebut, mereka hanya mampu memetik dua kemenangan di fase liga, dengan enam kekalahan yang mengunci mereka di peringkat 29 klasemen.

Masa Depan dan Harapan Kembalinya Sang Ikon ke United

Meskipun saat ini tengah dikepung oleh hasil-hasil negatif, proyeksi Gullit tetap memberikan optimisme bagi karier jangka panjang Van Persie. Pengalaman menghadapi tekanan besar di Feyenoord dianggap sebagai kawah candradimuka yang akan membentuk mentalitasnya sebelum benar-benar siap menangani klub sebesar Manchester United.

Bagi pendukung Setan Merah, ide melihat mantan idola mereka kembali sebagai manajer adalah hal yang menggiurkan. Namun, seperti yang ditekankan oleh Gullit, Van Persie membutuhkan waktu dan ruang untuk membuktikan bahwa kecerdasannya saat masih menjadi pemain bisa bertransformasi menjadi kesuksesan taktis di kursi manajer. Jika ia mampu membalikkan keadaan di Feyenoord, pintu menuju Old Trafford mungkin akan terbuka lebar di masa depan, membawa sang "kapten kontroversial" kembali ke pelukan publik Manchester.

Terkini