Target PNBP Masih Terancam Jika Harga Batu Bara Kalori Rendah Anjlok

Selasa, 10 Februari 2026 | 10:56:27 WIB
Target PNBP Masih Terancam Jika Harga Batu Bara Kalori Rendah Anjlok

JAKARTA - Pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap potensi penurunan harga batu bara kalori rendah di tengah upaya mengejar target Penerimaan Negara Bukan Pajak.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Rizal Kasli menyampaikan bahwa stabilitas harga pada level tertentu sangat krusial bagi keberlangsungan pendapatan negara dari sektor mineral.

Berdasarkan data terbaru pada Selasa 11 Februari 2025 sektor pertambangan sedang menghadapi tantangan serius akibat kebijakan pemangkasan volume dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya.

Apabila harga batu bara dengan kalori rendah merosot di bawah angka 70 Dollar AS per ton maka target setoran PNBP dipastikan akan sulit untuk dicapai maksimal.

Penurunan kuota produksi yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam dokumen RKAB mengharuskan harga komoditas di pasar internasional tetap berada pada level yang kompetitif dan stabil.

Ketergantungan terhadap fluktuasi harga global menjadi risiko besar mengingat volume produksi saat ini sudah tidak bisa lagi dipacu melebihi batas yang sudah disetujui secara resmi.

Dampak Kebijakan Pemangkasan Kuota Produksi Tambang

Langkah pemerintah dalam melakukan kurasi ketat terhadap pengajuan RKAB bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara konservasi cadangan nasional dengan kebutuhan pendapatan negara secara jangka panjang dan berkelanjutan.

Namun kebijakan ini memiliki konsekuensi langsung pada berkurangnya jumlah royalti yang bisa dipungut jika tidak dibarengi dengan tren kenaikan harga jual batu bara di pasar ekspor.

Banyak perusahaan tambang yang kini harus melakukan efisiensi operasional besar-besaran agar tetap bisa bertahan di tengah keterbatasan volume produksi yang diizinkan oleh pihak kementerian terkait.

Stabilitas Harga Sebagai Penyelamat Pendapatan Negara

Angka 70 Dollar AS per ton dianggap sebagai batas aman atau nilai psikologis agar perusahaan tambang tetap memiliki margin keuntungan yang cukup untuk membayar kewajiban negara.

Rizal menjelaskan bahwa jika harga terus tertekan ke bawah level tersebut maka kontribusi sektor pertambangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi akan mengalami perlambatan yang cukup signifikan.

Hal ini menjadi beban tambahan bagi pemerintah yang sedang berupaya mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya alam untuk membiayai berbagai program pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia.

Strategi Mitigasi Terhadap Fluktuasi Pasar Global

Para pelaku usaha diharapkan mampu melakukan diversifikasi pasar agar tidak hanya bergantung pada satu negara tujuan ekspor tertentu yang sedang mengalami penurunan permintaan energi primer.

Selain itu penerapan teknologi pertambangan yang lebih efisien diharapkan bisa menekan biaya produksi sehingga meskipun harga sedang lesu perusahaan masih mampu memenuhi kewajiban setoran PNBP.

Pemerintah juga terus memantau dinamika pasar energi dunia untuk memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap memberikan perlindungan bagi industri pertambangan nasional agar tetap berdaya saing.

Optimalisasi Penerimaan Melalui Pengawasan Sektor Minerba

Penguatan sistem pengawasan terhadap pelaporan hasil tambang menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk meminimalisir potensi kebocoran pendapatan negara di tengah keterbatasan kuota produksi tahun ini.

Sinergi antara kementerian teknis dan lembaga keuangan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa setiap ton batu bara yang terjual memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas.

Transparansi dalam pengelolaan data produksi dan penjualan melalui sistem digital terintegrasi menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan para investor di sektor energi dan sumber daya mineral.

Dinamika harga batu bara pada bulan Februari 2025 ini akan terus dipantau secara ketat oleh para analis kebijakan guna menentukan langkah strategis pemerintah pada kuartal berikutnya.

Keberhasilan menjaga target PNBP akan sangat bergantung pada seberapa efektif koordinasi antara pemangku kebijakan dengan para pengusaha tambang dalam menghadapi tantangan eksternal ekonomi global yang dinamis.

Terkini