Harga Properti Tanah Wilayah Jadebotabek Kini Mencapai Rp 12,7 Juta Permeter

Senin, 09 Februari 2026 | 09:19:02 WIB
Harga Properti Tanah Wilayah Jadebotabek Kini Mencapai Rp 12,7 Juta Permeter

JAKARTA - Sektor properti di kawasan Jadebotabek terus menunjukkan ketangguhan meski kondisi ekonomi global sedang tidak menentu.

Laporan riset pasar terbaru mengindikasikan bahwa indikator fundamental properti residensial di wilayah Greater Jakarta masih mengalami pertumbuhan.

Hingga akhir tahun lalu, nilai rata-rata tanah di wilayah ini tercatat telah menyentuh angka Rp 12.746.152 per meter persegi.

Kenaikan harga yang bersifat moderat ini menjadi bukti bahwa pasar properti saat ini bergerak ke arah yang lebih stabil.

Pertumbuhan harga yang terukur menunjukkan bahwa pasar terhindar dari perilaku spekulatif yang berlebihan dari para pemilik modal.

Dinamika ini mencerminkan apresiasi nilai properti yang didorong oleh kualitas fundamental wilayah serta pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan.

Stabilitas Nilai Jual Lahan di Wilayah Strategis

Berdasarkan data periodik, harga lahan di Jadebotabek hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,84 persen untuk basis setengah tahunan.

Namun jika dilihat secara tahunan, harga jual unit hunian atau sales prices tumbuh lebih progresif hingga mencapai 1,58 persen.

Kenaikan yang stabil ini menunjukkan adanya kepercayaan dari para investor terhadap nilai investasi properti di jangka panjang.

Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield, Arif Rahardjo, menilai bahwa tidak adanya lonjakan harga mendadak merupakan indikator sehat.

Fasilitas publik yang semakin lengkap di kawasan kota mandiri turut mendongkrak nilai tanah secara alami dan juga organik.

Faktor-faktor inilah yang kemudian menjaga minat beli masyarakat tetap tinggi meski harga terus mengalami penyesuaian pasar.

Tangerang Tetap Menjadi Pusat Pertumbuhan Properti Barat

Kawasan Tangerang kembali menegaskan dominasinya sebagai pemimpin pasar properti residensial di wilayah Greater Jakarta pada periode terkini.

Kontribusi peluncuran unit hunian baru dari wilayah ini mencapai angka 55 persen dari total suplai yang tersedia.

Pertumbuhan masif ini tidak hanya digerakkan oleh nama besar seperti BSD City ataupun Alam Sutera di Tangerang Selatan.

Area Utara Tangerang yang lokasinya berdekatan dengan Bandara Soekarno-Hatta kini mulai menunjukkan taringnya melalui berbagai proyek raksasa baru.

Salah satu proyek yang cukup menarik perhatian publik adalah pengembangan Asthara Skyfront City yang mengusung konsep hunian modern.

Pergeseran pembangunan ke arah utara ini membuktikan bahwa potensi lahan di wilayah Tangerang masih sangat luas.

Kontribusi Wilayah Penyangga Lain Bagi Suplai Hunian

Selain Tangerang, wilayah penyangga lainnya seperti Bogor dan Depok turut menyumbangkan porsi yang cukup signifikan bagi pasar properti.

Kedua wilayah ini mencatatkan kontribusi sebesar 19 persen dari total seluruh pasokan hunian baru yang ada.

Sementara itu, Bekasi memberikan sumbangsih sebesar 12 persen terhadap ketersediaan rumah tapak bagi para calon pembeli potensial.

Jakarta dan Karawang mencatatkan kontribusi yang paling minimum karena keterbatasan lahan luas yang tersedia untuk pengembangan baru.

Kondisi keterbatasan lahan di pusat kota membuat pengembang lebih memilih untuk melakukan ekspansi ke wilayah pinggiran Jakarta.

Hal ini berdampak pada pemerataan pembangunan infrastruktur yang kini semakin menjangkau area-area di luar pusat bisnis utama.

Gairah Pasar Pada Segmen Hunian Menengah Atas

Fenomena menarik lainnya yang terjadi di pasar properti saat ini adalah adanya pergeseran stratifikasi minat dari para konsumen.

Rumah dengan rentang harga Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar kini memegang porsi pasar terbesar sebesar 32 persen.

Angka ini menunjukkan bahwa permintaan dari kalangan profesional muda dan keluarga baru terhadap hunian layak tetap tinggi.

Namun, ketertarikan masyarakat terhadap produk properti premium atau kelas atas juga mengalami peningkatan yang sangat tajam sekarang.

Segmen menengah-atas menyumbang porsi permintaan sebesar 26,1 persen, sementara segmen atas berada di angka 25,4 persen.

Pergeseran ke arah produk eksklusif ini mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi sebagian masyarakat mulai pulih dan membaik.

Dukungan Suku Bunga dan Kebijakan Moneter Pemerintah

Daya tahan pasar properti hingga tahun 2026 ini juga sangat dipengaruhi oleh adanya kebijakan moneter yang bersifat akomodatif.

Penurunan suku bunga acuan memberikan ruang bagi perbankan untuk menawarkan bunga KPR yang lebih bersaing kepada nasabah.

Kondisi ini sangat membantu masyarakat dalam mengatur arus kas bulanan mereka saat memutuskan untuk mengambil cicilan rumah.

Arif Rahardjo dalam pemaparannya pada Minggu 8 Februari 2026 menyebutkan bahwa stabilitas ini sangat krusial bagi industri.

Tanpa adanya spekulasi harga yang liar, konsumen merasa lebih aman dalam melakukan investasi aset berupa tanah atau bangunan.

Sinergi antara pengembang, pemerintah, dan lembaga keuangan menjadi kunci utama keberhasilan pertumbuhan sektor properti di Jadebotabek.

Terkini